Rabu, Mei 18

Buku Diary Kelas 1 SMP

Sumber Foto: Mr. Google
Beberapa hari lalu, gue sempat mengobrak-abrik lemari di kamar lama yang sekarang ditempati oleh kakak. U know what? Gue menemukan sesuatu yang agak menggelikan soalnya dulu ini termasuk harta karun yang selalu gue jaga, bahkan suka gue bawa ke sekolah....  Apa itu???

Yaitu buku diary.... Ya, karena saking takutnya dibaca sama orang rumah, nih buku gue bawa-bawa ke sekolah. Dan di sekolah kadang-kadang isi diary tersebut, gue tunjukin ke temen-temen. halah halah.... Bahkan, ada satu diary jadi diary bersama. Maksudnya, temen-temen gue suka nebeng curhat di buku itu. Gokil, kan....

Senin, Mei 16

Gua hanya Ingin Denger Suaranya....

-->
Aku menyayanginya....
Sungguh!!! Sangat menyayanginya....
Seperti apapun dirinya kini, aku tetap menyayanginya....

Pertengahan tahun 1999
“De! Jalan-jalan yuk!!!” tiba-tiba suara lantang kakakku terdengar memenuhi kamarku.
Aku yang baru saja bangun dari tidur siang, memicingkan mata sambil menatapnya. “Kenapa sih Mas? Berisik tau!!! Mia kan lagi tidur,” kataku manja dengan suara serak selayaknya orang yang baru bangun tidur.
Kakakku tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku yang memang sudah berantakan. “Udah sore, jangan tidur mulu.”
Aku duduk di tempat tidur dan berhadapan dengannya. “Tadi Mas bilang apa? Jalan-jalan? Tumben!!!” kataku mengejeknya.
Kakakku itu langsung nyengir. “Tadi gua udah terima ijazah SMP.”
“Terus?” tanyaku tak mengerti.
“Nem gua paling tinggi di sekolah.” Jawabnya bangga.
“Serius???” tanyaku tak percaya. Kakakku menggangguk. “Asik-asik, ayo kita jalan-jalan! Tapi nanti Mas beliin Mia cokelat ya?” pintaku sambil tertawa riang.

Randi Perdana


“Kamu kenapa San?” tiba-tiba Dani sudah duduk di sebelahku dan menatap wajahku dengan serius.

Aku tersadar dari lamunanku.

“Daritadi kok kamu diem aja?” tanya Dani lembut. “Kamu sakit?”

Aku langsung menggeleng. “Aku nggak apa-apa kok,” jawabku cepat. “Aku tadi lagi mikirin kucing di rumah, soalnya belum aku kasih makan,” lanjutku berbohong tapi dengan senyum di wajahku agar ia percaya.

Dani mengerutkan keningnya sambil menatapku serius, terlihat sekali bahwa ia tidak percaya dengan jawabanku. Aku tetap tersenyum dan mengangguk kecil untuk meyakinkannya. Akhirnya ia pun tersenyum. “Ya udah, kalau kamu belum mau bilang alasan yang sebenarnya juga nggak apa, tapi lain kali, aku jangan dicuekin ya,” pintanya sambil mengusap rambutku.

Aku pun tersenyum mendengarnya. “Maafin aku ya kalau kamu merasa aku cuekin. Lain kali nggak lagi deh!” janjiku sambil mengangkat tangan kananku dan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengah.

Mendengar kata-kataku, Dani langsung menyenderkan dagunya di meja dan memasang wajah sedih. “Belakangan ini kamu juga udah sering ngomong kayak gitu, tapi nyatanya kamu sering bengong kayak tadi dan nggak ngedengerin cerita aku,” Dani berkata dengan suara lirih.

Sabtu, Mei 14

Contoh Paragraf Deskripsi

Sebulan ini, saya mengajar bahasa Indonesia untuk persiapan SNMPTN. Beberapa soal sempat menanyakan jenis-jenis paragraf: paragraf deskripsi, argumentasi, eksposisi, persuasi, dan narasi. Ketika menjelaskan, saya teringat dengan tugas kuliah saya tentang paragraf deskripsi yang pernah saya tulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Akademik (BIA).

Yang dimaksud dengan paragraf deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dihirup. Atau singkatnya, penggambaran dengan indera. Misalnya sebuah artikel yang menceritakan tentang kota Jakarta. Secara tidak langsung akan disebutkan segala hal yang dapat digambarkan oleh indra, misalnya kemacetan, banyak sampah (penglihatan), bau sampah (penciuman), bising karena klakson di mana-mana (pendengaran). 
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah contoh dari paragraf deskripsi tempat, yakni tentang penggambaran Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Rabu, Mei 11

Akhir dari Penantian


Akhir dari Penantian

Juli Minggu ke-2
Cewe: Sumpah! Gue seneng banget, di kelas 2 SMA ini gue bisa sekelas lagi sama Edo, itu lho temen gue dari SMP, tapi kami dekatnya ketika kelas 1 SMA.
Cowo: Gua bersyukur bisa sekelas lagi sama Erin. Cewe yang gua kenal sejak bangku SMP. Sejak saat itulah gua mulai suka sama dia.


Agustus Minggu ke-1
Cewe: Temen-temen gue ternyata anaknya asik banget dan rada gila gitu deh. Pokoknya gue makin enjoy di kelas 2 ini.
Cowo: Semakin hari gua semakin sayang sama Erin, walaupun dia nggak tahu kalo gua sayang dia. Gua pengen banget ungkapin perasaan ini tapi gua nggak berani. Baru ketemu muka aja gua udah grogi apalagi nembak.

Selasa, Mei 10

Bintang Kejora


Bintang Kejora

Aku menatap rumah bercat hijau muda yang ada di hadapanku dengan sedih. Rumah itu adalah rumah mantan sahabatku yang bernama Risa.
Memang lucu jika aku menyebutnya mantan sahabat, tetapi apa mau dikata, sekarang aku dan dia sudah tidak bersahabat lagi.

Aku terdiam, ingatanku kembali pada hari itu. Malam itu, aku dan Risa sedang berada di teras rumahku.

“Ris, masih inget mantan gue, nggak?” tanyaku waktu itu.

Risa mengangguk, “Kenapa?”

“Masa sekarang kalau gue dan dia ketemu di jalan, dia langsung buang muka,” ceritaku sedih.

Risa tertawa. “Gila tuh cowo royal banget!”

“Lho kenapa?”

“Soalnya dia buang-buang muka, padahal muka dia kan cuma satu,” kata Risa cekikikan. “Aturan, tuh muka langsung lo ambil terus lo pajang deh di rumah daripada dibuang di jalan kayak gitu,” lanjut Risa sambil terus tertawa.

Akupun ikut tertawa. “Bener juga tuh! Kenapa gue nggak kepikiran daridulu ya?” sahutku ikut tertawa.

Sepanjang malam itu, kami berbincang-bincang, bergosip, sampai kemudian, Risa mulai berbicara dengan pelan tetapi jelas.

“Niken…,” panggil Risa tiba-tiba.

“Apa?” sahutku.

Risa menghela napas. “Kenapa ya perpisahan selalu ada di dunia ini?”

“Ha?” tanyaku bingung.

Minggu, Mei 8

Ketika

Ketika raga tak sanggup berontak
Ketika suara tak sanggup berteriak
Hanya nafsu yang terpuaskan
Dan tubuh yang terabaikan


Aku disini
Dengan ketidakpastian
Tanpa rasa
Tanpa hati
Tanpa Moral

Terinspirasi dari artikel Maryati “Perempuan Tapol Sasaran Aniaya Moral dan Politik”
Tugas Akhir Penulisan Populer, 2008
Sekian dan terima komentar ... :)

Aaarrgh!!!

Kuhapus airmataku yang sudah mengalir sejak tadi. “Kenapa harus selalu seperti ini? Emangnya gue diciptakan hanya untuk patah hati?” tanyaku lebih kepada diri sendiri sambil membenamkan wajah di atas bantal. Sudah tiga kali aku berpacaran dan ketiganya berakhir dengan menyakitkan. 

Temanku pernah berkata, “Udah deh, nggak usah dipikirin! Cowok emang gitu! Kan gue pernah bilang, di dunia ini hanya ada dua jenis cowok, kalau nggak brengsek berarti dia gay!”

Saat itu aku tertawa terbahak. Meskipun tidak sepenuhnya menyetujui, aku merasa senang dengan kalimat tersebut dan jujur saja, hal itu sedikit menghiburku.

“Berarti cowok brengsek normal ya?” tanyaku ketika itu, tentu saja sambil tertawa dengan maksud menghibur diri.

Sabtu, Mei 7

Kisah di Balik Cinderela

   Kalian tentu tahu cerita seorang gadis cantik yang diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan kedua kakak tirinya, yang kemudian berkat kesabaran dan kebaikan hatinya, bukan?

     Ia ditolong oleh ibu peri yang mempermudah dirinya ke istana untuk bertemu sang pangeran yang pada akhirnya menikahi dan membuat nasib gadis itu berubah drastis. 

     Seperti yang sudah diketahui, cerita itu happy ending dan menjadi sangat terkenal di seluruh dunia. Cerita itu terkenal dengan nama Cinderela.

Tapi tahukah kalian kisah Cinderela yang sebenarnya?

Aku akan menceritakan kembali kisah itu tanpa terlewat sedikitpun, karena kisah itu masih tersimpan baik di dalam ingatanku.
Yah... aku adalah Cinderela. Akan tetapi, Cinderela bukanlah nama asliku. Lalu, siapakah namaku sebenarnya? Hal itu tidaklah penting. 
Baiklah aku akan mulai bercerita.

Aku adalah Jambanmu

Katamu, aku adalah bumi.

 “Karena di antara planet lain, hanya bumi yang memberikan kehidupan untuk manusia. Dan bagiku, kamu adalah bumiku,” ucapmu saat kutanyakan maksudmu. 

    Ketika itu, aku hanya tersenyum padamu, mengingat kita telah bersahabat sejak lama, aku bangga akan perkataanmu itu.

    Oleh karena itu, jika kau menganggapku sebagai bumimu, aku adalah bumi milikmu seutuhnya karena aku sangat menjaga persahabatan kita. Bahkan aku menutup diri terhadap pertemanan dengan perempuan lain. Karena bagiku, kau adalah mentari yang selama ini mencerahkan hari-hariku dan hanya kau yang bisa seperti itu.

Sampai ....
                  seseorang datang di antara kita.

Mencoba Bangkit tapi Kembali Terhempas

Bantu aku teman
Jangan biarkan aku terus larut dalam kesedihan
Aku sudah berusaha bangkit tapi luka ini tetap saja menganga
Mungkin aku terlalu bodoh
karena dulu kubiarkan saja cintaku mengalir deras
Atau mungkin aku terlalu naif
sehingga aku merasa sudah menggenggam hatinya
Maka atas kesombonganku itulah kini aku terhempas
dan tak sanggup lagi berdiri sendiri

Bintang

Berjalan di bawah langit malam

bertemankan bulan
beriringkan angin
berselimutkan sunyi

waaa
damainyaaa...
tapi.....
hening seketika
menatap langit
mencari-cari

sepertinya ada yang hilang....

tetap mencari, kemudian tersadar ....

Ketika Gerimis Menjadi Hujan

Ketika gerimis menjadi hujan
aku suka berjalan di bawahnya

karena hujan

tak akan bilang pada orang-orang

bahwa hatiku
terluka karenanya