Senin, Juni 27, 2011

Apalah Arti Sebuah Nama

Posted by tuslia on 6/27/2011 09:12:00 PM with 11 comments

 "Apalah arti sebuah nama" adalah kalimat yang sering kita dengar, bukan? Awalnya saya hanya tahu kalimat itu karena sering dengar dari orang lain, tapi saya tak tahu kalimat itu dari mana, kenapa bisa terkenal, terlebih makna dibalik kalimat itu apa.


Nah, sedikit intermezzo, dua tahun lalu, saya sempat membaca novel berjudul Shakespeare in Lie, sebuah novel bergenre teen shake (teen-lit) yang dikarang oleh Tria Ayu. Saya sempat membuat resensinya untuk tugas kuliah Penulisan Populer 1, jadi saya mesti membaca ulang resensi tersebut untuk menulis ini. hehe


Dari novel tersebut, saya jadi tahu kalau kalimat itu merupakan kutipan drama Romeo and Juliet yang ditulis oleh Shakespeare. Makanya, kalimat tersebut terkenal karena drama Romeo and Juliet juga diketahui banyak orang. Mengenai makna dibalik kalimat tersebut, dapat kita lihat dari kutipan berikut.
Apalah arti sebuah nama. Sekuntum mawar tetap memiliki keharuman yang sama meskipun disebut dengan nama lain...
Dari kutipan itu, Shakespeare ingin mengatakan bahwa sebuah nama sebenarnya tidak berarti apa-apa karena seseorang akan memandang kita dari kepribadian bukan dari nama. Sejelek-jeleknya atau seaneh-anehnya nama seseorang, jika orang itu baik, ramah, suka menolong, orang itu akan tetap disukai oleh banyak orang, begitupun sebaliknya. Meskipun namanya indah, cantik, "enak" didengar, tetap akan dijauhi jika kepribadiannya jelek. Setuju? Pasti.

Namun, apakah semua orang atau tepatnya, ketika kita kecil, teman-teman kita mengetahui makna dibalik kalimat tersebut? Atau apakah sekarang ini, benar-benar tidak ada anak yang diejek atau jadi bahan tertawaan karena namanya aneh?

Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya yang bernama Tuslianingsih. Jujur, dengan nama itu, beberapa kali saya mendapat ledekan, lebih ke arah becanda sih, tapi dulu pas saya kecil, becandaan tersebut jadi momok dan bikin saya "malu" punya nama tersebut.

Kenapa? Pertama, nama Tuslianingsih adalah nama Jawa, cenderung "kampungan" bagi orang Jakarta modern. Kedua, ditulis satu kata, itu sangat menandakan nama orang-orang zaman dulu. (contoh: ibu saya bernama Djariah, bapak saya bernama Sugianto). Ketiga, teman-teman saya memanggil dengan nama singkat, Tuslia. Nama Tuslia itu diplesetin jadi meletus, Mbak Tus, Kak Tus, atau bahkan ada yang manggil dengan Ningsih.

Dulu, ketika kecil, bahkan sampai saya kuliah semester awal, ada kalanya saya malu memperkenalkan diri dengan nama lengkap karena ketiga alasan tersebut. Jadi, saya lebih sering memperkenalkan diri langsung dengan nama panggilan, Lia. Biasanya mereka tau sendiri nama lengkap saya dari absensi atau buku tulis yang saya bawa, intinya bukan dari mulut saya sendiri. Nah, ketika saya mulai ikut organisasi dan sedikit dewasa, saya mulai merasa bangga dengan nama Tuslianingsih.

Jadi begini, saya sedikit tahu tentang arti nama saya itu. Ternyata, saya dikasih nama Tuslianingsih oleh almarhum Mbah Kakung (orangtua bapak saya). Bahkan, tadinya saya mau dikasih nama Tusliningsih, tapi untungnya tante saya menyarankan kepada beliau untuk menambahkan huruf A, jadi bisa dipanggil dengan nama Lia (Alhamdulillah). Terus, saya pun tau arti dibalik Tuslianingsih yaitu tulus ning hati, welas asih, yang dalam bahasa Indonesia artinya tulus di hati serta penuh rasa kasih (Alhamdulillah maknanya bagus). Terus, ibu saya bilang kalau sebenarnya beliau mau ngasih nama saya dengan nama Siti Nurjanah. Setelah tahu hal tersebut, saya langsung bersyukur dikasih nama Tuslianingsih (takut keberatan euy bernama Nurjanah yang artinya cahaya surga).

Ya udah, dari penjelasan tersebut, saya mulai bangga dengan nama Tuslianingsih, nggak lagi ragu menyebut nama lengkap ketika berkenalan di forum resmi. Apalagi sekarang ada gelar S. Hum. di belakangnya (ahay, intermezzo :D)

Nah, kenapa tiba-tiba saya bahas nama sekarang? Jadi begini, tanggal 20 Juni 2011, keponakan pertama saya lahir. Dia anak kakak saya yang bernama Teguh Arisyanto. Nah, Mas Teguh dan Mbak Elin (istrinya) meminta orangtua saya untuk memberi nama anak mereka. Waktu itu keponakan saya belum lahir, belum tahu pasti perempuan atau laki-laki. Namun, dokter berkata bahwa anak tersebut kemungkinan besar berjenis kelamin perempuan. Alhasil, ibu saya hanya menyiapkan nama perempuan (sebenarnya kehabisan ide untuk nama laki-laki, haha).

Nah, dalam proses pencarian nama keponakan saya tersebut, saya turut andil memberikan saran. Pertama, saya menekankan jangan memberi nama dengan nama "orang dulu" atau istilah anak sekarang "kampungan". Zaman udah berkembang, nama-nama bagus pun bertebaran, jadi nggak ada salahnya mencari nama "orang sekarang". Terlebih, saya nggak mau, keponakan pertama saya itu akan mengalami nasib yang sama, diejek atau jadi bulan-bulanan karena namanya yang bagi mereka, "kampungan".

Saran kedua, saya menyarankan untuk menambahkan nama bapaknya di akhir namanya. Untuk kasus ini Arisyanto. Secara nama bokapnya Teguh Arisyanto, ada baiknya, nama terakhir anak tersebut adalah Arisyanto, baik perempuan maupun laki-laki. Paling enggak, ada nama keluarga yang diciptakan untuk pemberian nama di akhir nama semua anak, misalnya, gabungan nama ayah dan ibunya. Saya punya temen nama belakangnya Adidandisa. Ternyata itu adalah gabungan nama ayahnya Adi, nama ibunya Disa, jadinya Adidandisa.

Jadi kenapa mesti ada nama belakang atau nama keluarga? Bukan untuk keren-kerenan karena pengen ada nama keluarga. Jelas bukan. Jadi, sebenarnya ide ini udah saya pikirkan untuk saya praktikkan kepada anak saya kelak. Saya pengen di akhir nama semua anak saya, ada nama bapaknya.

Ide tersebut berasal dari penulisan bibliografi atau daftar pustaka pada karya ilmiah (nggak jauh-jauh dari sastra Indonesia, haha). Pasti udah tahu urutan dan tata cara penulisan daftar pustaka, kan?

nama pengarang. tahun terbit. judul buku. kota penerbit: penerbit.

contoh: 
1) Brown, Dan. 2005. The Da Vinci Code. Jakarta: Serambi.
2) Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta: KPG.

Lihat penulisan nama 1), nama penulis tersebut adalah Dan Brown, tetapi dalam penulisan di daftar pustaka, dibalik menjadi Brown, Dan. Kenapa? Karena Brown adalah nama keluarga atau nama belakang ayahnya yang bernama Richard G. Brown, lihat di sini. Di luar negeri, orang-orang cenderung mengenalkan dirinya dengan nama keluarga, jadi biasanya nama keluarga mereka jauh lebih dikenal daripada nama sendiri. Dan Brown dipanggil dengan Mr. Brown.

Nah, penulisan daftar pustaka di Indonesia pun mengikuti aturan luar, lihat 2), padahal banyak orang Indonesia yang nama belakangnya bukan nama keluarga. Pada contoh 2), Utami sebagai nama keluarga, padahal nama ayah Ayu Utami adalah Sutaryo, lihat di sini. Dengan melihat kedua kasus tersebut, saya pun berkeyakinan bahwa pada nama anak saya kelak akan saya tambahkan dengan nama belakang ayahnya. Keyakinan itu, saya tularkan kepada Mas Teguh dan ibu saya yang sedang mencari nama untuk keponakan. haha 

Satu lagi, saya menyarankan nama keponakan saya harus lebih dari satu kata, jangan kayak nama saya. haha Zaman sekarang, anak-anak mempunyai nama yang panjang. Tapi, saya juga bilang jangan terlalu panjang, tiga kata cukuplah. Lalu, peraturan sekarang, untuk mengurus paspor ke wilayah negara UEA (Uni Emirat Arab) alias kalau mau pergi haji, nama kita minimal harus tiga suku kata, lihat di sini. Saya nggak tahu kenapa mesti minimal tiga, saya cari-cari di google nggak ketemu, mungkin ada yang lebih paham akan hal ini, bisa menambahkan di komentar.

Di samping itu, situs jejaring sosial, salah satunya Facebook, nggak nerima nama cuma satu kata. Contohnya saya, kan, saya mau nulis nama Tuslianingsih. Eh, nggak bisa, dia minta nama keluarga (nama belakang), jelas penghinaan. Si Facebook nggak tahu apa kalau saya keturunan Jawa asli yang namanya cuma satu kata? huahaha.

Akhirnya, saya memisah nama saya menjadi Tuslia Ningsih. Saya tambahkan Lia karena temen-temen banyak yang nggak kenal kalau nama gue cuma ditulis Tuslia Ningsih. Soalnya mereka kenalnya nama Lia (malu memperkenalkan nama panjang, berdampak sekarang, haha).



Eh, kok jadi bahas nama gue lagi, haha Kembali lagi kepada keponakan. Akhirnya, muncullah berbagai ide nama untuk keponakan saya. Cukup senang ketika ibu saya menanyakan pendapat saya waktu beliau ingin memberikan nama Asiyah Shelina Arsinta. Beliau bilang kalau Asiyah itu adalah istri Fir'aun yang ketakwaannya Subhanallah, Shelina diambil dari nama ibunya (Helinna), sedangkan Arsinta dari nama bapaknya (Arisyanto) versi cewe. Saya pun setuju. Maknanya bagus.

Ibu saya pun memberikan nama tersebut kepada kakak saya, beliau bilang, "Ibu ada dua pilihan Asiyah Shelina Arsinta atau Asiyah Shelina Arisyanto." Akhirnya Mas Teguh dan Mba Elin memutuskan memberikan nama keponakan saya itu dengan nama Asyiah Shelina Arisyanto. Ini dia fotonya.

Pas lahir beratnya 4 KG, sekarang udah kurusan kayaknya. Bakal cantik kayak tantenya pasti :p.
Senaaaang!!! Karena saran saya diterima semua. Nama nggak "kampungan", tiga kata, dan ada nama bapaknya di nama terakhir. hoho Terlebih saya juga menyarankan untuk anak kedua depannya B dan nama akhirnya juga Arisyanto. Yah, kita lihat saja nanti apakah ide saya bakal diikutin (lagi) atau nggak. hehe

Dari tulisan ini, mungkin banyak yang nggak setuju kalau saya menulis dengan nama "kampungan". Kalian akan beranggapan bahwa nama siapapun bagus asalkan kepribadiannya. Di sini, saya menyebut "kampungan" memang atas pemikiran saya sendiri karena pengalaman masa kecil yang suka diejek atau dibecandain tentang nama. Jadi, maaf, jika misal ada yang tersinggung atau gimana. Nggak maksud, sumpah!

Di sini, saya juga ingin menambahkan bahwa saya nggak setuju dengan kalimat "Apalah arti sebuah nama". Alasannya, menurut saya, makna sebuah nama itu penting banget, lho. Secara nggak langsung jadi ter-mindset dengan sendirinya. Dalam diri kita, berusaha untuk menjadikan makna atau doa yang terdapat dalam nama tersebut sesuai dengan diri kita agar tidak (lagi-lagi) menjadi ejekan. "Namanya bagus tapi kelakuannya minus." Nggak mau, kan dibilang begitu?

Makna sebuah nama juga bisa menjadi alasan, contohnya sekarang, kalau ada yang meledek nama saya, saya akan bilang, "Eh jangan salah, nama gue artinya bagus, tulus hati penuh kasih," (sambil melet). Nah, jadi bangga kan?

Jadi, arti sebuah nama itu penting banget, begitupun dengan nama keponakan saya. Jadi, Mas Teguh nggak berhenti begitu aja, dia berusaha mencari arti semua nama anaknya. Setelah memutuskan nama Asyiah Shelina Arisyanto sebagai namanya. Saya dan Mas Teguh mencari arti keseluruhannya dengan bantuan Mr. Google. Akhirnya diketahuilah makna nama tersebut.

Asyiah : Kebajikan, wanita yang dijamin masuk surga oleh Allah
Shelina : Bulan, wanita yang lembut
Arisyanto : nama bapaknya.
Jadi, bisa dikatakan Asyiah Shelina Arisyanto adalah anak dari Teguh Arisyanto yang InsyaAllah menjadi wanita lembut dan penuh kebajikan. Bagus ya? :D

Oke, sekian pemikiran saya. Sebenarnya sih inti tulisan ini pengen norak aja kalau sekarang saya udah punya keponakan dan menjadi seorang tante. hihi


Oia, kemarin saya sempat nemuin situs nama-nama bayi, bagi yang membutuhkan coba aja mampir, situs ini cukup lengkap dengan nama-nama alfabet dan artinya. Tapi, situs ini agak berat sih, loadingnya lama (tapi mungkin karena modem saya yang udah abis kuotanya, haha) tapi coba aja buka di sini.

Oke, sekian dan terima komentar... :)
Categories:

11 komentar:

  1. gw setuju dengan artikel lo. tapi gw ga terlalu pengen ah untuk menambah embel2 nama keluarga di belakang nama anak. biar anaknya ga hidup dibayang2i orang tuanya kalo suatu saat orang tuanya sukses. biarkan mereka sukses dengan nama yang mereka miliki sendiri

    BalasHapus
  2. iya, hak lo utk itu, klo gw kan saran plus bukti, jadi ada asal usulnya knp gw menyarankan utk itu. gw jg blm psti namain anak gw pake embel2 keluarga sih, tergantung bapaknya jg stuju apa ga, hehe

    BalasHapus
  3. maksudnya Shakespeare "apalah arti sebuah nama" itu lebih ke nama belakang (nama keluarga) karena itu ada dalam naskah "Romeo dan Juliet" yang isinya dua keluarga berseteru
    jadi pasangan sejoli itu merasa cinta mereka terhalang nama keluarga mereka

    gw lebih setuju dengan Dunia Sophie dan Supernova
    di Dunia Sophie, dipertanyakan, "Apakah kau akan menjadi orang yang sama apabila namamu bukan Sophie?"
    Di Supernova dikatakan "Namamu adalah apa yang digunakan untuk menyebut dirimu kepada segenap semesta."
    (kira2 gitu ya kutipannya, gw ga apal)

    gue tidak akan menjadi gue seutuhnya kalau nama gue bukan Melody Violine
    lo tidak akan menjadi lo seutuhnya kalau nama lo bukan Tuslianingsih

    sebenernya, gw pikir nama lo unik, ga kampungan sama sekali :)

    BalasHapus
  4. oooh gitu, seumur-umur belum pernah baca naskah drama Romeo and Juliet sih mel, jadi taunya cuma sedikit, itupun tau dari shake teen yg gue sebut di atas....

    iya, gue sih sekarang nggak minder lg dengan nama gue, gue sebut kampungan di sini kan cuma untuk ada istilahnya, susah cari istilah lain yg lebih nyampe maksudnya. haha

    thanks mel, komentar lo nambah pencerahan dan info buat gw dan lainnya :)

    BalasHapus
  5. gw baca karya2 shakespeare gara2 tugas matkul Drama

    bacanya capek, tapi kalo mau alternatif, ada film Romeo and Juliet (Leonardo DiCaprio)
    atau sinetron Romi dan Yuli (Anjasmara) wkwkwkwk


    daripada "kampungan", mungkin "nyeleneh" lebih tepat ya
    dulu gw juga sebel sama nama gue yang "nyeleneh" ini, ribet kalo kenalan sama orang sering ditanyain atau dibecandain -__-

    BalasHapus
  6. oh, kalo film Leonardo Dicaprio gue juga pernah nonton, itu sama? ada perbedaannya kan...

    oh iya, gue sempet baca twitter lo, lo nggak suka ditanyain, "bisa alat musik apa?" secara nama lo melody yak. hoho

    tp menurut gue nyeleneh masih kurang sampe, soalnya beda, misalnya nama lo suka dibilang "nyeleneh" karena melody, nah beda dengan "kampungan" sperti "ndeso" gitu, hehe

    BalasHapus
  7. baru tau gw arti nama lu,,,, keren juga bapak lu ngasih nama lu yee,,, hehehehehe

    BalasHapus
  8. yg namain itu bokapnya bapak gw alias mbah kakung... hehe bukan bokap gw... tp ya itulah... stlh tau, bangga2in aja... haha

    BalasHapus
  9. Apalah arti sebuah nama? Menurutku nama itu mengandung arti, orang tua memberikan nama ada maksudnya, ada doa dan harapan di sana, bahkan dulu Rasulullah mengganti nama beberapa sahabat menjadi nama yang lebih baik, tujuannya? ya karena berharap nama itu akan menjadi karakter hidupnya :)

    BalasHapus
  10. Terima kasih atas komentarnya. Iya, saya pun merasa arti nama itu penting, makanya saya buat tulisan ini. Sudah baca tulisannya secara keseluruhan? Intinya pemberian nama itu penting, apalagi dengan arti di dalamnya.

    Terima kasih sudah berkomentar.... :)

    BalasHapus
  11. Aku masih agak malu dgn nama aku, tak cari2 artinya jg gak ada.

    memang sih pemberian nama itu ada maksud pesan atau doa dr orang tua, orang tuaku termasuk orang jaman dulu kolot jd memberi nama anaknya terkesan asal.

    BalasHapus