Sabtu, Agustus 18

Berkendara Motor: Sebuah Pengalaman dan Beberapa Saran

Izinkan gue yang baru dua tahun bisa mengendarai motor ini, itupun cuma matic, berbagi cerita. hehe

Ya, gue baru dua tahun bisa mengendarai motor, kalau sepeda sih udah sejak SD bisa dengan lancar mengendarainya. Kenapa baru dua tahun? Karena sebelumnya, motor di rumah hanya ada vespa yang selalu dipakai oleh bokap dan motor cowo (kopling tangan) yang dipakai oleh kakak. Jadi, untuk apa gue belajar mengendarai motor jika nggak ada motor yang bisa gue gunakan setiap harinya. Benar kan?

Jadi, setelah lulus kuliah, bokap baru membelikan motor dan gue pun belajar mengendarainya. Sebelum lancar, bokap udah menyuruh gue membuat SIM, katanya agar gue lebih lancar dan lebih percaya diri. Padahal sih supaya bokap merasa tenang tuh dan nggak rempong mesti antar dan jemput gue ke mana-mana. Terlebih gue anak perempuan satu-satunya. hehe


Setelah SIM udah di tangan, gue pun memberanikan diri mengendarai motor di jalan raya. Catatan: sampai sekarang, gue hanya bisa mengendarai motor matic lhooo... *lha, malah bangga* X)) Terus kok gue bisa mempunyai SIM? Yah, tahu sama tahulah... :p

Selama dua tahun gue mengendarai motor, banyak keuntungan yang gue dapatkan sebagai pengandara, kerugian juga ada sih tapi dikit. :p

Apa aja keuntungannya?

Soflens: Alasan Penggunaan dan Tata Cara Pemakaian Ala Saya

Kali ini gue ingin membahas softlens... Tapi sebelumnya, gue tekankan, posisi gue di sini hanya pengguna softlens yang ingin berbagi informasi.

Gue bukan dokter mata, ahli mata, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan spesialisasi mata. Jadi, kalau nantinya ada informasi yang salah tolong ditegur ya...

Mungkin siswa yang gue ajar atau orang-orang yang baru mengenal gue setelah lulus kuliah nggak tahu bahwa selama ini mata gue minus dan memakai softlens. Terang saja demikian, softlens yang gue gunakan bukanlah softlens berwarna, seperti biru atau coklat, melainkan softlens bening. Jadi, jika tidak didekatkan, nggak akan terlihat kalau gue memakai softlens.

Sejak kapan gue memakai softlens? Sekitar tahun kedua berkuliah. Kenapa? Ada beberapa alasan...

Jumat, Agustus 17

[Resensi] Four Season: Empat Novel Romantis Karya Ilana Tan



Sudah pernah membaca novel Ilana Tan yang bertema 4 season? Belum? Beli gih, lagi dijual paketan langsung empat novel tuh di toko-toko buku kesayangan Anda... (:p) Atau sebelum membeli dan membaca, kalian mau tau dulu seperti apa cerita keempat novelnya dengan membaca tulisan ini? Sok atuh kalo gitu...

Novel Four Season

Hmm tapi, kalau mengenai cerita keseluruhannya sih nggak mungkin ya saya jabarkan di sini, yang ada bakal jadi spoiler... terus kalian nggak jadi beli deh karena udah tau isi ceritanya. Haha Atau kalau memang sangat penasaran, kalian bisa kok googling. Sudah banyak yang membuat resensi dengan hanya menceritakan isi bukunya, tetapi tidak membahas keunggulan dan kekurangannya. :p

Mungkin agak telat kalau saya membuat resensi mengenai 4 season Ilana Tan sekarang. Berhubung novel keempat dari paket ini sudah terbit tahun 2010 lalu, tapi nggak ada salahnyalah kalo saya bahas sekarang, kan saya juga baru selesai baca keempat novelnya beberapa hari lalu. *pembelaan* X))

Jadi novel 4 season atau novel empat musim Ilana Tan ini masing-masing berjudul Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London (benar nggak ya, sebentar saya cek...). Oke benar. Lalu, apakah cerita pada novel-novel tersebut berkelanjutan? Sebenarnya sih keempat novel ini dalam segi cerita tidak ada hubungannya sama sekali. Maksudnya? Ya kalian bisa membaca novel ini secara lepas dan tidak berurutan. Lalu, untuk apa dibuat satu paket dan dinamai 4 season seakan-akan wajib memiliki keempatnya?

Nah, di sinilah menariknya novel Ilana Tan...