Selasa, Maret 26

Jelang Senja dan Fajar

Tahun 2002
Senja melirik beberapa kali ke arah Jelang yang berada di sebelahnya. Dia tak sabar ingin menanyakan sesuatu kepada Jelang. Namun, beberapa kali juga ia urungkan niatnya itu.

Jelang adalah perantara Senja dengan pacarnya. Senja dan pacarnya memang berpacaran hanya melalui surat, tak lebih. Mereka sama sekali belum pernah jalan berdampingan seperti pasangan lainnya. Meskipun begitu, mereka sudah berpacaran cukup lama, sekitar satu tahun. Selama satu tahun berpacaran, Senja dan pacarnya sangat jarang berkomunikasi langsung. Hal ini disebabkan pacar Senja seorang yang pendiam. Lagipula, mereka masih duduk di kelas 3 SMP sehingga merupakan hal wajar jika gaya berpacaran mereka seperti itu.


“Lang, gimana?” tanya Senja pada akhirnya. Wajahnya terlihat gusar, tapi juga penuh harap.

Siang itu, Senja sedang dalam perjalanan pulang bersama Jelang. Rumah mereka berdekatan sehingga orang tuanya meminta Jelang untuk selalu menemani dalam perjalanan ke dan dari sekolah. Hal itu sudah berlangsung sejak mereka duduk di sekolah dasar.

“Apanya?” tanya Jelang dengan wajah bingung.

Senja menghentikan langkahnya dan menahan Jelang, “Lho, ‘kan kemarin aku nitip surat buat Fajar!” protes Senja, “kamu lupa ngasih?” wajahnya cemberut. Beberapa hari lalu, Senja memang menitipkan surat untuk pacarnya, Fajar.

“Oh itu,” Jelang pun menunjukkan ekspresi mengerti, “udah kok,” lanjutnya santai seraya melangkahkan kakinya kembali.

Senja mengejar Jelang yang mulai menjauh, “Terus?” tanya Senja mengiringi Jelang tepat di sebelahnya.

Jelang tak menjawab seolah tak mendengar.

Senja menghela napas berat ketika Jelang tak juga menjawab rasa penasarannya. Bagaimana mungkin Senja tidak penasaran jika surat tersebut adalah penentu masa depan hubungannya dengan Fajar? Sebenarnya, hubungan Senja dan Fajar sedang renggang. Entah kenapa, beberapa kali Senja mengirimkan surat yang dititipkannya melalui Jelang, Fajar tak pernah membalasnya.

Oleh karena itu, ketika menitipkan suratnya yang kemungkinan terakhir itu, Senja berkata kepada Jelang, ‘Lang, tolong nanti sebelum kamu kasih Fajar, kamu bilang sama dia, kalau sampai surat ini nggak juga dia bales, tandanya aku dan dia putus.’ Apakah itu terdengar mengancam? Senja tak peduli. Saat itu yang ia pikirkan adalah kejelasan hubungannya, apalagi sebentar lagi mereka Ujian Nasional. Senja tidak ingin perubahan sikap Fajar yang seakan-akan menjauhinya itu membuatnya hilang konsentrasi.

Di lubuk hatinya, Senja berharap “ancaman” itu membuat Fajar segera membalas suratnya. Namun, jika ternyata Fajar tidak membalasnya, berarti Fajar memang menginginkan hubungan mereka berakhir.

“Tapi kamu jangan marah ya, Sen,” tiba-tiba Jelang berkata dengan nada pelan. Senja yang tadinya berjalan dengan wajah sedih langsung menoleh dan menatap Jelang dengan kening berkerut.

Perkataan Jelang membuatnya khawatir. Senja yakin bahwa Jelang akan menyampaikan sesuatu yang tidak ingin ia dengar mengenai hubungannya dengan Fajar. “Maksud kamu?” tanyanya hanya untuk memastikan. Meskipun ia sudah dapat memprediksi hal yang akan disampaikan oleh Jelang, ia masih berharap mendapat kabar baik.

Jelang memperlambat langkahnya, tanpa menoleh ke arah Senja, ia berkata, “Jadi, kemarin, sebelum aku ngasih surat, aku sampein pesan kamu itu, terus Fajar keliatan marah, dia ngambil surat kamu dari tanganku, dia bilang, ‘bilang sama Senja, putus ya putus aja’, tanpa dia baca surat itu, dia langsung menuju tempat sampah, dia merobek-robek surat kamu dan membuangnya ke tempat sampah,” jelas Jelang panjang lebar.

Senja menghentikan langkahnya mendengar hal yang sangat menyakitkan itu. Jika ia berada di rumahnya, airmatanya pasti langsung mengalir deras. Namun, Senja adalah seorang wanita mandiri yang dikenal selalu ceria. Ia tidak akan menunjukkan kepada orang lain bahwa dia lemah. Jadi, ketika Jelang bermaksud menghampiri dan menghiburnya, Senja mengangkat tangannya memberi perintah agar Jelang berhenti dan tidak mendekatinya.

Senja tersenyum, “Ya udah, kalo gini kan jelas jadinya. Daripada kesannya aku ngejar-ngejar dia, lebih baik ada kejelasan gini. Lagipula, sebentar lagi kan UN, mungkin memang waktunya aku dan Fajar putus dan berkonsentrasi pada pelajaran,” ucapnya tenang, cenderung pelan, agar airmata yang sudah mendesak keluar itu dapat ia bendung dengan aman.

Jelang terlihat sangat khawatir, “Beneran kamu nggak apa-apa, Sen?” tanyanya seraya mendekat kepada Senja.

Sadar bahwa Jelang berusaha melihat matanya yang memang saat itu sudah berkaca-kaca, Senja pun langsung mengalihkan pandangannya dan melihat jam tangannya, “Lang, aku duluan ya, ada film kesukaanku yang mulai sebentar lagi,” Senja pun segera meninggalkan Jelang sambil melambaikan tangan. Tak dihiraukan raut wajah Jelang yang kebingungan ditinggal olehnya.

Senja berlari sekencang mungkin agar airmatanya tidak jatuh sepanjang perjalanan menuju rumah. Patah hati? Ya. Fajar adalah cinta pertamanya. Bahkan, setahun lalu, ketika Fajar mengiriminya surat dan menyatakan cintanya, Senja menerimanya tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Setahun menjalin kasih bukan waktu yang sebentar untuk anak seusianya, meskipun itu hanya dengan berkirim surat tanpa pernah jalan atau mengobrol berdua saja.

Tahun 2003
Senja terlihat serius menatap papan pengumuman. Jari telunjuknya menelusuri papan yang berisi daftar nama siswa baru itu.

“Serius banget, Sen?” tanya Jelang sambil melihat daftar nama siswa yang menjadi pusat perhatiannya.

Senja tidak menjawab. Jarinya berhenti pada sebuah nama. Jelang mendekatkan wajahnya ke papan pengumuman lalu memusatkan perhatiannya pada sederet nama yang ditunjuk oleh Senja.

“Ah... Masih saja...” gumam Jelang sangat pelan, hampir tak terdengar olehnya.

“Aku nggak habis pikir, Lang... Kenapa sih, kok bisa dia juga bersekolah di sini?” tanya Senja. Matanya sama sekali tak berpaling dari pengumuman itu dan jarinya masih menunjuk satu nama.

“Jangan tanya aku, tanya dia kalau berani,” jawab Jelang dengan nada ketus. Meskipun Senja menyadari perubahan nada bicara Jelang, perhatiannya masih tetap terpusat dengan salah satu nama yang tertera di sana. Matanya menyiratkan kesedihan.

Senja pun duduk di bangku taman yang tak jauh dari papan pengumuman itu. Wajahnya cemberut. Matanya menatap kosong pada lapangan SMA yang kini menjadi sekolahnya. Kemudian dia menghela napas panjang, seolah-olah ada beban yang sangat berat menghimpitnya.

“Kenapa?” tanya Jelang bernada khawatir seraya menyentuh pundak Senja, mungkin untuk menyadarkannya dari tatapan kosong itu.

Senja menggeleng lemah, “Ternyata, Fajar juga bersekolah di sini,” ucapnya lirih, dia kembali menghela napas.

Kening Jelang berkerut, “Lalu?” tanya Jelang dengan nada ketus.

Senja sempat menatap sebal ke arah Jelang mendengar pertanyaan bernada ketus itu. Namun, ia tak kuat menahan rasa hatinya seorang diri, “Semenjak putus dari Fajar sampai sekarang, aku sama sekali belum bisa ngelupain dia.”

“Aku tahu,” sela Jelang dengan nada ketus yang sama.

Seolah-olah tidak menyadari perubahan wajah Jelang yang semakin kesal, Senja melanjutkan curahan hatinya, “Segala sikapnya yang masa bodoh setiap bertemu aku selama sisa masa SMP-ku, udah cukup bikin aku sakit hati. Udah banyak airmata yang aku keluarin untuk dia. Bahkan aku berjanji, ketika SMA aku pasti bisa ngelupain dia!” Senja menghentakkan genggaman tangannya pada pahanya.

Jelang menepuk-nepuk kepala Senja perlahan, “Sudahlah... Sekarang kan kamu sudah di SMA, seharusnya kamu mulai belajar melupakan dia sesuai janji kamu itu.”

Senja menatapnya. Matanya sudah berkaca-kaca, “Dulu itu aku kan nggak tau kalau ternyata Fajar juga di SMA yang sama,” airmatanya pun mengalir tanpa bisa dia kendalikan.

Jelang merangkul Senja dan mengusap-usap bahunya. Dia sama sekali tidak mengatakan sesuatu untuk sekadar menghiburnya. Hanya, Senja tahu bahwa Jelang sempat menghela napas panjang.

Tahun 2006
Hari kelulusan pun tiba, para siswa angkatan 2003 berpakaian sangat rapi dengan kebaya dan jasnya. Fajar pun tak mau ketinggalan. Dia mengenakan jas terbaiknya. Selain menghadiri wisuda SMA-nya itu, Fajar berniat menemui seseorang yang sudah beberapa tahun ini tak pernah dipedulikannya.

Senja. Seorang perempuan yang sempat mengisi hari-harinya selama setahun, meskipun hanya melalui kata dalam surat. Seorang perempuan yang mencuri semua perhatiannya sehingga di matanya tak ada perempuan lain yang lebih sempurna darinya. Hanya Senja. Seorang perempuan yang dapat membuatnya berdebar hanya dengan melihat wajahnya. Namun, Senja pula yang telah merenggut kebahagiaannya, bahkan hingga dia wisuda SMA hari ini.

Fajar tersadar dari lamunannya saat melihat Jelang di kejauhan. Dia pun menghampiri Jelang. Jelang adalah perantaranya dengan Senja ketika SMP. Senja dan Jelang selalu bersama hingga sekarang karena memang rumah mereka berdekatan. Dulu, ketika dirinya berpacaran dengan Senja, dia sangat cemburu jika melihat Jelang lebih dekat dengan Senja. Bahkan, ketika awal SMA, dia sempat menyangka bahwa mereka akan berpacaran di kemudian hari. Namun, hingga lulus seperti saat ini, Fajar tidak pernah melihat mereka berdua bertindak seperti layaknya sepasang kekasih. Mungkin, dugaannya salah. Mungkin, mereka memang murni bersahabat. Entahlah...

“Lang...” sapanya kepada Jelang yang sedang melihat-lihat bunga yang dijajakan para pedagang di luar gedung tempat upacara wisuda SMA berlangsung.

Jelang sempat terlihat terkejut, kemudian tersenyum, “Eh Jar, apa kabar?” tanyanya sambil menjabat tangan Fajar.

Dia memang sudah sangat lama tidak bertegur sapa langsung seperti ini dengan Jelang. Beberapa kali sempat bertemu di lorong sekolah, itupun hanya sekadar anggukan kepala semacam sapaan basa-basi pertemanan.

“Baik,” jawab Fajar, “lagi apa?” tanya Fajar karena sesekali Jelang melihat ke arah penjual bunga.

“Aku ingin membeli bunga untuk Senja,” bisik Jelang seolah-olah takut terdengar oleh orang lain.

Fajar tersentak mendengar pernyataan itu, “Bunga?”

Jelang tersenyum, “Iya, Senja sangat menyukai bunga,” matanya terlihat berbinar.

Fajar tersadar. Dia sangat yakin bahwa mata itu memperlihatkan rasa cinta. Dia yakin, Jelang akan menyatakan cintanya pada Senja sambil memberikannya bunga. Hal yang tak pernah ia lakukan. Jangankan memberikan bunga, baru memikirkan bahwa ia akan berbicara langsung dengan Senja saja sudah membuatnya hampir pingsan.

Sesaat Fajar terdiam tanpa tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakannya. Awalnya ia memang ingin meminta tolong kepada Jelang untuk menyampaikan pesan kepada Senja bahwa ia ingin menemuinya setelah acara wisuda berakhir. Namun, ia pun memutuskan mengurungkan niatnya itu.

“Jelang!” terdengar seseorang berteriak dari kejauhan.

Fajar tersentak. Meskipun ia tidak pernah berbicara langsung pada pemilik suara itu, Fajar langsung tahu pemilik suara merdu itu. Dengan lirikan, Fajar sudah membuktikan dugaannya. Bahkan, ia tahu bahwa Senja semakin dekat dari posisinya berdiri. Fajar pun langsung pamit kepada Jelang, “Maaf, Lang. Aku ada urusan lain. Selamat dan semoga berhasil!” ucapnya sambil menepuk bahu Jelang kemudian beranjak pergi.

Fajar menyadari bahwa arah jalannya akan membuatnya berpapasan dengan Senja. Dan dia tahu persis bahwa Senja menatapnya sambil tersenyum ketika mereka berpapasan, bahkan Senja berbisik menyebut namanya. Namun, Fajar sama sekali tidak meliriknya, bahkan berlalu tanpa menjawab sapaan itu. Mungkin Senja akan menganggapnya sombong dan beranggapan dia tak peduli. Padahal, andai Senja tahu isi hatinya.

Namun, semua sudah terlambat. Fajar tidak ingin mengusik usaha Jelang untuk mengutarakan isi hatinya kepada Senja. Fajar menyadari bahwa lembarannya bersama Senja sudah berakhir. Tidak akan ada sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya sangat ingin Fajar tanyakan kepada Senja, ‘kenapa hubungan mereka yang dulu sudah berjalan setahun bisa kandas begitu saja?’

Tahun 2012
“Lang...” panggil Senja pelan sambil memerhatikan cincin perak yang melingkar di jari manisnya. Cincin itu bukan cincin pertunangan. Cincin itu hanya pemberian iseng Jelang kepadanya.

“Apa sayang?” sahut Jelang dengan mesra. Senja menyenderkan kepala pada bahunya. Ya. Dia dan Jelang memang tidak bertunangan. Mereka baru saja berpacaran.

Sudah dua tahun sejak mereka sama-sama menjadi alumni sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia. Baru sebulan lalu, tepat hari ulang tahun Senja, Jelang menyatakan perasaannya.

“Kapan kita menikah?” tanyanya kepada Jelang yang sedang sibuk membuat laporan keuangan kantornya. Jelang memang sudah mendapat pekerjaan tetap, bahkan posisinya sudah stabil dan terbilang cukup berpengaruh di kantornya.

Jelang pun menghentikan pekerjaannya lalu melingkarkan tangannya di pundak Senja sambil mengusap-usap rambutnya. “Kita baru berpacaran sebulan lho, kamu sudah nggak sabar untuk menikah denganku? Padahal aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk memilikimu, aku tetap sabar menanti pernikahan kita,” bisik Jelang bermaksud menggoda Senja.

“Ah sudahlah... jangan lagi kamu ceritakan bahwa kamu sudah mengharapkanku sejak kamu mengalami pubertas,” rengek Senja, “tentu saja aku nggak percaya karena ketika SMP, kamu dengan senang hati menjadi mak comblang antara aku dan ...”

“Oh iya, bisa tolong buatkan aku kopi? Aku merasa sedikit mengantuk sekarang,” tanya Jelang dengan tiba-tiba seperti sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

Senja sangat menyadari hal itu sehingga dia pun tersenyum kecil karena menyadari bahwa Jelang masih cemburu jika nama mantan pacarnya disebutkan dalam pembicaraan mereka.

Akhirnya, Senja menjawab dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya, “Oke. Tunggu sebentar,” kata Senja sambil beranjak dari tempat duduknya.

Tahun 2013
Deg!

Masih saja jantungnya berdetak kencang ketika melihat perempuan itu. Padahal sudah beberapa tahun Fajar tidak berjumpa dengannya. Tetap saja, jantungnya selalu ingin meloncat keluar saat melihat wajahnya. Sama seperti dulu. Baik ketika dia SMP, maupun SMA. Ternyata perasaannya masih sama. Fajar masih mencintainya. Cinta pertamanya. Bahkan sejak putus dengan dirinya yang entah disebabkan oleh apa, Fajar belum sekalipun berhubungan dengan perempuan lain. Entah kenapa, tidak ada lagi perempuan yang spesial di matanya. Tidak ada yang lain. Hanya Senja. Ya. Senja.

Senja yang sama. Senja yang pernah menjadi kekasihnya. Cinta pertamanya. Senja yang sudah mencuri segala perhatiannya. Senja yang juga merenggut kebahagiaannya.

Setelah sekian tahun, akhirnya dia dipertemukan kembali dengan Senja di pernikahan rekan kerjanya. Fajar sempat berpikir bahwa kebetulan ini menandakan bahwa dirinya harus mengambil langkah yang dulu tidak pernah berani dia ambil.

“Senja?” tanyanya memastikan.

Senja menoleh dan terlihat terkejut saat menyadari bahwa Fajar-lah yang menyapanya, “Eh, hai... Fajar?”

Fajar tersenyum lega saat mendengar Senja menyebut namanya. 

Jika dulu Fajar sama sekali tidak berani menatap wajah Senja, saat ini, Fajar benar-benar tidak membuang kesempatan lagi untuk berpuas diri menatapnya. Bahkan jika bisa, ia tidak ingin berkedip agar rasa kehilangan selama beberapa tahun belakangan ini dapat terobati hanya dengan menatap Senja seperti itu.




Senja sempat ragu saat melihat sesosok pria yang mirip dengan mantan pacarnya itu. Namun, setelah dia melihat senyum pria itu, Senja pun yakin bahwa dia adalah Fajar. Cinta masa SMP-nya.

Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Senja tidak mengerti apa yang menyebabkan hal itu. Selama ini dia merasa jantungnya berfungsi dengan baik. Namun, di hadapan Fajar yang saat ini menatap wajahnya tanpa berkedip dengan dihiasi senyuman di bibirnya itu, Senja benar-benar merasa hampir pingsan dibuatnya.

“Sudah lama ya tak bertemu,” Fajar tersenyum kecil seraya menatap mata Senja.

Senja berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Ia pun mengatur napasnya dan berkata, “Lebih tepatnya, sudah lama ya kita tak berbicara,” ucap Senja dengan nada menyindir.

Fajar terkekeh, “Hei, kamu menyindirku?”

Senja pun tertawa melihat muka Fajar yang memerah karena sindirannya itu, “Maaf, hanya mengingat masa lalu. Dan benar, kita memang sudah lama sekali tidak berbicara.”

Fajar tersenyum kecil, “Maafkan aku kalau dulu aku terkesan sombong. Tapi harap dimaklumi, aku kalau gugup memang seperti itu. Apalagi dulu kan aku masih bocah,” Fajar menjelaskan dengan sungguh-sungguh.

Senja menatap Fajar dengan saksama, “Ih alasan yang aneh. Itu bukan gugup. Aku sapa, kamu pura-pura nggak denger. Aku senyumin, kamu buang muka. Itu namanya sombong. Kenapa sih kamu kayak gitu semenjak kita putus?”

Fajar mengangkat bahu, “Entahlah, aku juga heran. Eh sebenarnya aku lupa sih. Maklumlah itu sudah lama sekali.”

Sesaat tak ada suara di antara mereka. Senja memandang sekitarnya yang penuh dengan tamu undangan lainnya. Ketika berbicara tadi, tanpa sadar mereka menyingkirkan diri ke pinggir ruangan gedung itu agar tidak menghalangi lalu lalang tamu lainnya.

“Sebenarnya, ada satu hal yang sangat ingin aku tanyakan sejak dulu, kok bisa ya hubungan kita berakhir begitu saja?” tanya Fajar tiba-tiba.

Senja langsung menatap Fajar dengan kening berkerut. “Lho, seharusnya itu yang aku tanyakan?”

“Kamu juga mempertanyakan itu? Wah, berarti kemungkinan karena memang kesibukan kita masing-masing ya!” lanjut Fajar. Wajahnya tersenyum, tetapi sangat terdengar bahwa dia tidak yakin dengan kesimpulannya sendiri.

Senja pun mengerutkan keningnya. Ia heran dengan jawaban itu. Namun, semakin dipikirkan, semakin berantakan ingatannya. Senja pun tidak ingin memikirkannya. Kisah mereka sudah sangat lama berakhir. Bahkan ada beberapa kejadian yang mungkin telah ia lupakan. Namun, kisah yang sudah berlalu, tak perlulah dipermasalahkan lagi. Meskipun Senja menyadari satu hal penting yang sejak tadi berusaha ia hiraukan dari pikirannya ... 

“Aku mencintaimu.”

Senja hampir mengira bahwa dirinyalah yang mengucapkan kalimat itu kepada Fajar. Senja pun segera menutup mulutnya. Fajar tertawa terbahak-bahak, “Lihat wajahmu! Ternyata kalimat itu membuatmu sangat kaget ya?” tanyanya sambil terus tertawa.

Senja sempat heran. Namun, ia langsung tersadar bahwa ternyata kalimat itu bukan keluar dari mulutnya, melainkan dari mulut Fajar. Wajah Senja pun memerah, “Ya ampun, apa sih maksud kamu bilang itu?” tanya Senja untuk menutupi rasa gugupnya. Tentunya ia juga kaget dengan pernyataan cinta Fajar itu.

Senyum Fajar menghilang perlahan dari wajahnya. Dia menatap Senja tanpa berkedip, “Sebenarnya, aku hanya ingin mengatakan perasaanku dulu yang belum pernah kamu dengar langsung,” kata Fajar bersungguh-sungguh.

Senja memicingkan matanya dan menatap Fajar dengan mata menyelidik, “Yakin dulu? Sekarang sudah tidak?” tanya Senja dengan nada meledek.

Fajar seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, tiba-tiba seseorang merangkul bahu Senja. Senja pun dapat melihat wajah Jelang yang tersenyum kepadanya, “Sayang, ternyata kamu di sini? Padahal, aku udah mencari kamu ke mana-mana.”

Senja ingin menjelaskan, tetapi Jelang sudah melihat ke arah seseorang yang sejak tadi menatap mereka dengan tatapan kosong, “Fajar!” Jelang melepaskan rangkulannya pada Senja dan langsung memeluk Fajar dan menepuk-nepuk pundaknya.

Dari balik punggung Jelang, Senja melihat Fajar menatapnya dengan tatapan luka dan kecewa. Meskipun ia tahu bahwa lonjakan hatinya saat bertemu Fajar tadi akan berakhir seperti ini, tetap saja, Senja merasakan hatinya hancur. Bahkan, melebihi perkiraannya. Kini, Senja merasa yakin bahwa dia masih mencintai cinta pertamanya itu. Ya, Fajar. Namun, semua sudah terlambat. Sebulan lagi, ia akan menikah dengan Jelang.


EPILOG

Apakah mereka memang ditakdirkan bersama jika aku tak ada di antara mereka? Nama mereka saja sudah sangat serasi. Fajar dan Senja. Tanpa mereka, hari tidak akan menjadi indah, bukan?

Fajar. Mantan pacar Senja. Cinta pertama Senja. Pria yang telah merebut perhatian Senja. Sekarang ia muncul kembali di hadapan kami. Tak cukupkah semasa SMA ia merebut sebagian besar isi pembicaraanku dengan Senja? Bahkan semenjak mereka putus pun Senja masih sering membicarakannya.

Dulu, ketika masa sekolah, hanya dengan melihat Fajar suasana hati Senja dapat berubah drastis. Raut ceria dan sedihnya bisa berganti dengan cepat bergantung pada sikap Fajar. Jika Fajar membuang muka saat bertemu dengannya, Senja langsung bersedih. Namun, jika tanpa sengaja Senja melihat Fajar sedang tertawa bersama teman-temannya, wajahnya akan ceria, meskipun Senja melihatnya hanya dari kejauhan.

Padahal jika saja Senja menjernihkan pikirannya, ia akan menyadari bahwa ada seseorang yang selalu mengharapkannya.

Jika saja sejak dulu Senja tidak berubah, tidak hanya memikirkan Fajar, tidak hanya membicarakan Fajar, serta dapat membagi perhatiannya sedikit saja kepadaku, aku tak akan berupaya memisahkan mereka.

Menjadi perantara di antara Fajar dan Senja merupakan perbuatan yang sangat bodoh. Setiap mereka berbalas surat, tak ada satu pun surat yang tak kubaca. Kesal dan sakit saat membaca surat-surat mereka. Isinya sungguh dalam. Bahasa mereka indah, bukan lagi bahasa anak kecil yang sedang bermain cinta. Sampai akhirnya aku sadar. Cinta mereka semakin kuat. Cinta mereka akan tetap seperti itu hingga akhirnya mereka berani berbicara satu sama lain dan aku pun mereka lupakan karena tak lagi diperlukan.

Tentu saja aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku tak akan membiarkan Senja meninggalkanku seorang diri. Aku mencintainya. Bahkan sejak di sekolah dasar. Oleh karena itu, kurencanakan hal itu.

Surat yang tak terbalas karena memang tak ada satu pun surat mereka yang aku sampaikan. Pada akhirnya, aku mengarang cerita kepada Fajar dan Senja. Sampai Fajar membenci Senja dan tidak memedulikannya. Sampai Senja merasa dirinya telah dicampakkan oleh Fajar. Aku menang. Mereka berpisah.

Sampai akhirnya, aku dapat memiliki Senja. Hanya untukku. Fajar sudah tak terlihat di kehidupan kami. Hanya ada kami.

Kemudian datang hari itu. Senja kembali bertemu dengan fajarnya atau mungkin Fajar yang kembali menemukan senjanya? Semua itu terlihat dari kejauhan. Ingin rasanya aku langsung menghampiri Senja dan menjauhinya dari Fajar. Namun, aku ingin memastikan sesuatu. Memastikan bahwa Senja sudah menjadi milikku seutuhnya.

Kenyataan berkehendak lain, dari pertemuan mereka yang hanya beberapa menit itu, aku menyadari satu hal: aku hanya memiliki tubuhnya, tetapi tidak dengan hatinya.

Terlihat jelas dari gestur tubuh mereka. Tergambar nyata pada mimik wajah mereka. Mereka saling merindu. Mereka masih saling mencintai.

Fajar dan Senja. Seharusnya mereka tidak bisa bersama. Namun, jika memang Tuhan menginginkan mereka bersatu, tak akan ada satu makhluk pun yang dapat mengusiknya. Jika memang mereka ditakdirkan bersama, usaha seperti apapun untuk menjauhkan mereka, mereka akan tetap kembali bertemu dan kembali jatuh cinta.

Oleh karenanya, setelah semalaman merenungkan hari itu, kubatalkan pesanan undangan pernikahanku dan Senja pada pagi harinya. Seharusnya dari dulu aku menyadarinya, beginilah cara mencintai yang benar. Tidak harus memiliki, hanya dengan melihatnya bahagia, itu sudah lebih dari cukup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar