Senin, April 15

[ProsaLagu] Cinta Begini

sumber foto: di sini
Mengapa?

Sebuah kata tanya yang selalu mengawali pertanyaanku jika mengingat hubungan kita. 
Mengapa tidak sejak dulu kita dipertemukan?
Mengapa kita dipertemukan jika akhirnya berpisah? 
Mengapa berpisah, padahal hati kita menyatu? 
Mengapa hati kita menyatu tidak sejak dulu? 

Pertanyaan tersebut terus berulang bagai sebuah lingkaran yang tak berujung.

Kau dengan ponsel di telingamu sedang berbicara dengan seseorang yang sepertinya membuatmu kesal. Meski begitu, aku terkesima dengan cara bicaramu. Kau memang marah kepada seseorang itu, sedikit bernada tinggi, tetapi tatapan matamu lembut, jelas terlihat bahwa orang itu sangat berarti untukmu.

Sabtu, April 13

[Resensi Novel] Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa by Prisca Primasari


Judul : Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Penulis : Prisca Primasari
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadhona
Penerbit : GagasMedia
Cover: Dwi Annisa Anindhika
Tebal Buku: 291 halaman
Cetakan Pertama : 2012
Harga: 45k di TMBookStore, Detos (Disc 10%)

Ketika melihat judul novel ini, saya membayangkan sebuah cerita dari negeri dongeng, terlebih lagi warna sampul buku dengan biru muda yang terkesan lembut. Pada sampul terdapat gambar bunga, salju, dan istana. Hal tersebut membuat saya membayangkan cerita dongeng seperti Cinderella.

Setelah membacanya, ternyata memang ada unsur dongengnya, yaitu kisah Snegurocha, seorang gadis salju yang tahan hanya pada musim dingin. Seorang gadis yang membiarkan dirinya meleleh karena mencintai manusia. 

Rabu, April 3

[Resensi Buku] Catatan Perjalanan Windy Ariestanty: Life Traveler


Judul: Life Traveler Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Penulis: Windy Ariestanty
Editor: Alit T. Palupi
Proofreader: Resita Wahyu Febiratri
Cover: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
Cetakan Pertama: 2011
Cetakan Keempat: 2012
381 halaman
Harga: 63k di TM BookStore, Detos (disc 10%)


"Haah... Akhirnya selesai juga!" 

Begitulah kira-kira yang saya desahkan, tentunya didahului dengan helaan napas lega. Ya. Saya lega. Pada akhirnya, saya bisa menyelesaikan narasi perjalanan yang disusun oleh Windy Ariestanty dalam buku Life Traveler ini. Tidak seperti membaca fiksi, untuk menyelesaikan buku ini, saya lambat sekali dalam mengolah kata demi kata yang terangkai di dalamnya. Karena memang, ini bukan genre buku yang saya sukai.