Sabtu, Juni 15

[Resensi Novel] Memori Karya Windry Ramadhina


Judul: Memori Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: eNHa
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-562-x
Cetakan pertama, 2012
Tebal Buku: 301 halaman
Harga: 45k (disc 10%)
di TMBookStore, Detos

Sampul Belakang
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi. 
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini. 
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman. 
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.


Itulah pendapat Mahoni, seorang wanita yang bekerja sebagai arsitek di salah satu perusahaan besar di Eropa. Namun, suatu hari, ia diberitahukan oleh omnya, adik ayahnya, bahwa ayahnya meninggal dunia. Ia pun kembali ke Indonesia. Walaupun ia membenci ayahnya karena menikah lagi dengan Grace dan meninggalkan ia bersama ibunya, ia pun tetap pulang untuk penghormatan terakhir karena setelah ayah dan ibunya bercerai, Mahoni sangat membenci ayahnya dan tidak pernah mau bertemu dengannya.

Sesampainya di Indonesia, ternyata ia mendapat kenyataan yang membuatnya sangat kesal. Omnya, satu-satunya keluarga ayahnya, berkata bahwa Mahoni mau tidak mau harus merawat adik tirinya, anak dari Grace yang bernama Sigi, yang masih duduk di bangku SMA, padahal ia sangat membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Grace. Mahoni beranggapan bahwa Grace sebagai orang ketiga yang sudah merebut kebahagiaannya sehingga membuat ayah dan ibunya bercerai. Namun, di tengah kebenciannya kepada Sigi, Grace tidak dapat menolak diberi tanggung jawab untuk merawat adik tirinya itu karena Grace, ibu tiri Mahoni, pun sudah meninggal dunia.

Selama dia di Indonesia, Mahoni bekerja magang di kantor arsitektur milik Sofia dan Simon. Sofia dan Simon terlihat memiliki hubungan khusus, meskipun mereka berdua tidak menyatakan secara langsung tentang hubungan itu. Simon adalah teman lama Mahoni ketika dulu berkuliah. Bahkan, sebelum lulus kuliah, mereka sempat menjalin hubungan. Pertemuan itu menyebabkan perasaan mereka kembali seperti dulu. Namun, Mahoni tidak ingin menjadi seperti Grace yang merupakan orang ketiga dalam hubungan ayah dan ibunya.

Hal inilah yang menjadi konflik dalam novel ini. Selain itu, perasaan benci kepada ayahnya pun, membuat hubungan Mahoni dengan Sigi, yang kini serumah dengannya, sangat renggang, Mahoni memasak sarapan untuk Sigi lalu berangkat bekerja, sepulangnya dia membeli makan malam dan menyajikan untuk Sigi. Setelah itu, dia akan masuk ke kamar. Tak ada komunikasi. Hubungannya dengan Sigi cenderung dingin. Sampai pada akhirnya, Mahoni pun menyadari bahwa segala kebencian itu telah membuatnya tidak bisa menikmati hidup.

Begitulah...
Berbeda dengan novel chicklit lainnya, novel ini bukan mengedepankan cerita cinta, melainkan kebencian yang ada pada diri tokoh aku, yaitu Mahoni. Rasa benci kepada keluarga dan ketraumaan akibat hal-hal yang terjadi di keluarganya membuat dia pun sulit bersikap "manis" kepada orang sekitarnya.

Saya adalah orang yang sangat menyukai cerita cinta dan keromantisan. Justru tema novel ini biasanya bukan tema yang saya sukai. Namun, novel ini memberi kesan yang berbeda. Hebatnya, Windry berhasil merangkai kalimat dengan sangat indah. Pemikirannya tentang cinta, dendam, dan makna-makna kehidupan membuat saya sangat menyukai cerita pada novel ini. Meskipun tidak sepenuhnya tentang cinta, penulis sangat lihai merangkai konflik antara keluarga, pekerjaan, dan sosial sehingga semua saling terhubung. Demikian juga watak masing-masing tokoh sangat kuat dan berbeda satu sama lain. Itu semua membuat saya tidak bisa melepas buku ini sebelum cerita berakhir karena saya benar-benar penasaran dengan akhir ceritanya. Dan... saya pun sangat menyukai cerita yang happy ending. Cerita ini pun diakhiri sesuai keinginan saya. Ah, jadi ikut bahagia karenanya. :D

Kelebihan lainnya adalah Windry menggunakan latar belakang pendidikannya, arsitektur, untuk menjadikan novel ini semakin lengkap dan berbobot. Seperti yang sudah tergambarkan pada sinopsis, pekerjaan para tokohnya kebanyakan seorang arsitek. Namun, hal itu tidak hanya sebagai penghias, melainkan sebagai pelengkap yang membuat novel ini semakin bermakna indah...


NB:
Ini adalah novel karya Windry Ramadhina yang pertama saya baca dan novel ini berhasil membuat saya jatuh cinta kepada cara bercerita Windry. Saya pun resmi menjadi penggemarnya!!!

2 komentar:

  1. dan saya adalah satu pemeran di novel tersebut!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai siapa? Memang novel itu adalah cerminan kehidupan nyata. hehe
      Terima kasih sudah berkomentar. :)

      Hapus