Kamis, Oktober 2

Dear Sahabat

Dulu... Kita selalu bersama
Tawa, canda, bahkan airmata kita bagi rata
Agar bahagia melingkupi kita
Agar duka berganti asa

Lalu, keadaan menjadi keruh
Akupun menjauh
Berharap kalian mengerti
Malah salah arti
Maaf, jika akhirnya aku memilih pergi

Bukan, bukan karena rasa bersalah
Tapi karena menyerah
Tersadar dari kenyataan
Tempatku telah tergantikan




Catatan:

Dear para sahabat, jika kalian tidak dapat menerima seseorang yang baru di sisiku karena lebih dulu mengenal masa laluku, satu hal yang perlu kuingatkan kembali kepada kalian bahwa kalian lebih dulu mengenal aku daripada masa laluku itu.

Terima kasih atas persahabatan kita selama ini. Aku berharap dapat kembali bersama kalian. Suatu hari nanti. Setelah kalian dapat menerima masa depanku. :)

Rabu, September 3

Kamu: Dermaga Terakhirku (InsyaAllah)

Kamu....
Ya kamu...

Kamu adalah lelaki yang paling sabar di antara lelaki yang pernah singgah di kehidupanku.

Kamu adalah lelaki yang selalu menuruti segala keinginanku di antara lelaki lain yang pernah mendampingiku.

Kamu adalah lelaki yang sering menunjukkan rasa sayang dan cinta secara langsung tanpa kode, tanpa embel-embel gengsi ataupun sejenisnya dibanding lelaki lain yang pernah ada di hari-hariku.

Bukan membandingkan, bukan memuji, melainkan aku hanya ingin bersyukur... Bersyukur karena (akhirnya) dipertemukan olehmu. Ke mana kamu selama ini? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dari dulu saja agar aku tidak terlalu lelah dan salah dalam menemukan dermaga yang tepat?

Terima kasih ya sudah menjadi lelaki seperti keinginanku di masa muda, di mana aku berharap ada seseorang yang mencintai, menyayangi tanpa gengsi dan langsung menunjukkan kasih sayangnya serta selalu ada setiap aku membutuhkan.

Jumat, Agustus 8

Tips Pemakaian Nail Polish (Kutek) by Lia :p



Sudah lama mau share foto ini, tapi saya takut yang meliatnya malah jadi gagal fokus. Soalnya, punggung tangan saya sampai jari nggak ada indah-indahnya. LOL (menghina diri sendiri sebelum dihina oleh orang lain. :p).

Jadi, hobi pakai kutek atau sebutan kerennya nail polish ini sebenarnya baru berani saya kerjakan setahun lalu. :p Itupun cuma sebulan sekali ketika tamu bulanan wanita datang. Haha Yah, iseng-iseng aja sih, pakainya pun cenderung asal dan nggak rapi. Biarinlah, yang penting berani mencoba.

Langkah-langkahnya pun, ala-ala saya, jadi kalau ngasal ya maafkan... Eh tapi, udah baca-baca dan nonton youtube juga kok sebagai bahan referensi. Suer... So, here we go...

Jumat, Juli 11

[Resensi Novel dan Film] The Fault In Our Stars by John Green


Judul: The Fault in Our Stars: Salahkan Bintang-Bintang
Penulis: John Green
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Prisca Primasari
Proofreader: Yunni Yuliana M.
Desainer Sampul: BLUEgarden
Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka)
Cetakan II, April 2013
Beli di Gramedia, Margonda
Harga 49k

Cover Belakang

Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan. Itulah yang dialami oleh Hazel Grace. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.
Tapi, kelompok itu toh tak buruk-buruk amat. Di sana ada pasien bernama Augustus Waters. Cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Amsterdam untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan tak terlupakan.
Tetap saja, rasa nyeri selalu menuntut untuk dirasakan, seperti halnya kepedihan. Bisakah Augustus dan Hazel tetap optimistis menghadapi penyakit mereka, meskipun waktu yang mereka miliki semakin sedikit setiap harinya?
Novel ini membawa kita ke dunia para karakternya, yang sanggup menghadapi kesulitan dengan humor-humor dan kecerdasan. Di balik semua itu, terdapat renungan mengenai berharganya hidup dan bagaimana kita harus melewatinya


Berawal baca review seorang teman dan melihat rating di Goodreads yang luar biasa, bahkan mendekati sempurna, saya pun langsung bergegas membelinya di toko buku. Saya sangat penasaran dengan "hal" yang membuat buku ini mendapat begitu banyak bintang dan pujian. Apakah karena judulnya terdapat kata "bintang"? Oke, itu konyol... #selfkeplak.

Sabtu, Juni 28

Apakah Hobi itu? Hobi saya adalah ... ?


Yang namanya hobi seharusnya selalu dijalankan ya, apapun kendalanya. Saya jadi menyangsikan hobi membaca yang saya canangkan selama ini. Bahkan, dulu sempet bilang hobi saya menulis cerita. 

Katanya hobi, tapi kok sekarang dalam satu bulan pun belum tentu baca satu novel. Padahal dulu, nggak bisa tidur sebelum baca.

Katanya hobi, tapi kok novel-novel yang baru saya beli nggak saya baca? Jadi mikir sendiri, jangan-jangan beli bukunya karena rak buku itu pemberian seseorang? Bayangkan, dari 110 buku yang saya punya, hampir setengahnya belum saya baca. Padahal, dulu sering banget kehabisan bahan bacaan karena belum sanggup beli novel, maklum kantong pelajar dan mahasiswa.

Trus, kemarin seorang sahabat bertanya apakah saya masih suka menulis? Saya cuma nyengir sambil bilang, jangankan nulis cerita, blog aja telantar, paling banter nulis status di BBM atau di Facebook. haha
Lalu, apakah hobi saya? Dalam KBBI sih, hobi itu adalah sesuatu yang sering kita lakukan, kita senangi ketika melakukannya, tapi dilakukan pada waktu senggang, dan di luar pekerjaan utama.

Kamis, Juni 26

Long Time No See!!!

Huwaaah, udah berapa lama saya nggak buka blog? Eh salah, bukan nggak buka, tapi nggak nulis. Iya, saya sudah lama tidak produktif dalam menulis. T.T Semacam mood yang berganti-ganti...

Kalau lagi hobi baca, saya bacaaaa aja kerjaannya. Kalau lagi hobi beli novel, beli doang, tapi nggak baca. Kalau lagi hobi nulis resensi, postingannya kebanyakan resensi. Kalau lagi hobi ngajar, postingannya tentang pelajaran Bahasa Indonesia. Trus sekarang hobinya apa? Nyaris nggak ada.

Novel di rak saya cuekin aja gitu, padahal banyak yang belum dibaca. Tulisan di draft ngejogrok aja gitu tanpa dilanjutin lagi. Jangankan di blog, nulis status di media sosial aja jarang pake banget.

Hmm, jadi bingung mau nulis apa. Soalnya tadi iseng-iseng buka blog, trus liat di kolom komentar, waaaah banyak yang komen dan nanya di beberapa postingan, tetapi belum saya jawab. Akhirnya, tadi saya sibuk jawab satu-satu. Trus, tiba-tiba saja, saya jadi pengen nulis resensi lagi, pengen nulis tentang percintaan, pengen nulis tentang persahabatan, dan paling penting, pengen bahas hobi baru saya yang agak menyita waktu, yaitu bisnis. Halaaah... hahaha

Sekarang, mau bersih-besih blog dulu deh. Banyak sarang laba-labanya. hihi Secara yaa... terakhir saya posting tuh bulan Januari. What? Januari? Berapa abad yang lalu. Hiks...

Syudahlah... bersih-bersih dulu, nulis-nulis dulu, berharap dapat ilham. Semoga aja bulan puasa nanti banyak waktu luang jadi bisa bloggeran dengan telaten. hohoho

Rabu, Januari 15

Introspeksi Diri

Introspeksi Diri Bagian I

Banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Bisa saja, suatu alasan terbentuk karena menutupi alasan yang sebenarnya.
Bisa saja, alasan yang terucap itu merupakan versi halus dari alasan semula.
Bisa saja, alasan itu tercipta untuk kebaikan bersama:
melindungi beberapa pihak agar tidak saling berseteru atau menutupi aib diri sendiri/orang lain yang tidak boleh diketahui orang lain.

Oleh karena itu, sebaiknya, hargailah semua alasan yang terucap. Karena alasan itu pasti ada tujuannya. Kita yang mendengar hanya bisa mempercayainya sehingga tidak akan muncul pemikiran negatif yang terkesan menuduh dan akhirnya membinasakan silaturahmi yang sudah lama tercipta.


Instrospeksi Diri Bagian II
Kita sama-sama menganggap diri yang paling sabar sehingga ketika kita merasa kesabaran habis, akan tercetus kalimat yang menurut kita wajar, tapi itu justru sangat menyakitkan dan tak termaafkan.


Instrospeksi Diri Bagian III
Maaf, baik dalam perkataan maupun perbuatan yang tanpa sadar menyakiti.
Maaf, atas ketiadaan waktu untuk bersama.
Terima kasih, atas segala keceriaan, kasih sayang, perhatian, selama ini.