Minggu, April 12

[Resensi Novel] We Versus the World by Stanley Meulen

Setelah putus dari Sera Karina, Jeremy Mulen kini menemukan dirinya terjebak dalam sebuah perasaan cinta yang sangat dalam terhadap Sera. Ia merasa bahwa hatinya kini tak bisa ke mana-mana lagi. Tapi, cinta mereka memang penuh dengan liku dan kerumitan. Tak lama setelah mereka balikan sebagai sepasang kekasih, Sera kembali lagi pergi, menjauh dari Jeremy.

Dunia berubah, hidup berubah, Sera pun berubah. Ia lulus dari SMA, bertambah dewasa dan misterius. Sera telah memiliki dunianya sendiri, melupakan masa lalunya dengan Jeremy. Sampai suatu hari, Jere mendapat kabar bahwa Sera hilang. Jeremy yang baru saja kehilangan ibunda tercinta, kini harus masuk ke fase terkelam dalam hidupnya. Ia pun harus memilih antara Sera atau Zabrina, wanita lain yang datang mengisi hatinya. 

Akankah ia memutuskan untuk menolong Sera? Lalu, siapakah yang akan ia pilih, Sera atau Zabrina? Masuki bagian tergelap dari hidup seorang Jeremy Mulen dan temukanlah sesungguhnya dari cinta. 

Resensi

Hmm, awalnya bingung mau ngasih bintang berapa. Akhirnya saya putuskan memberi bintang dua dari lima. Cerita pada buku ini mudah diikuti, lebih seperti buku harian. Saya cukup menikmati cara penulis bercerita, meskipun terganggu dengan susunan kalimat dan pemenggalan kata yang salah. Tapi itu nantilah saya bahas belakangan.

Awalnya, baca buku ini karena barter minjem novel sama siswa. Seorang siswa ingin meminjam salah satu novel saya, lalu saya pun meminjam novel yang ia punya. Dari cara dia mendeskripsikan buku ini, sepertinya buku ini bagus, apalagi dia bilang, buku ini adalah buku kedua dari buku pertamanya yang akan segera ditayangkan filmnya. 


Mulailah saya membaca, saya membaca hanya dalam satu hari karena memang bahasanya ringan dan mengalir. Namun sayang, kadang alurnya terlalu lambat, kadang juga terlalu cepat. Misal, dalam satu atau dua bab, bisa saja menceritakan satu hari saja, sedangkan di lain halaman, tiba-tiba saja sudah berganti tahun. Begitupun dengan konflik yang ada, tidak ada "gregetnya" sama sekali. Bahkan saya masih bingung apa yang membuat Jeremy sangat mencintai dan sulit melupakan Sera padahal Sera meninggalkannya begitu saja, hanya diselesaikan dalam sekali kedip, alias beda halaman, mereka pun jadian atau kembali putus. hehehe Ya sudahlah, itu sepertinya yang juga menjadi pertanyaan pada buku pertamanya. Meskipun saya belum membacanya, saya sempat membaca review-nya di Goodreads juga. 

Jadi, kesimpulannya gimana? Bagus nggak? Yah, saya cuma bisa menjawabnya dengan memberikan rating dua (nggak tega ngasih satu). Tapi, saya rasa, untuk pembaca ABG atau remaja SMP, buku ini pasti dinilai bagus karena emosi, cinta-cintaan, dan tingkah laku tokoh-tokohnya yang labil dan beberapa ada yang berlebihan layaknya ABG. Beberapa dialog sempat membuat saya tersenyum sih, tapi lebih sering mengernyitkan dahi saking herannya, "Kok gitu?" 

Dari segi penulisan bagaimana? Awalnya saya tidak mau mengomentari, tapi pertengahan menuju akhir, saya pun merasa gatal dan segera mencatat hal-hal yang membuat saya risih dari segi pengeditan. 

1. Masalah typo, ada beberapa kata yang salah ketik atau kurang huruf, sayang saya tidak mencatat halaman dan katanya karena seingat saya tidak terlalu banyak. 

2. Banyak sekali pemenggalan kata yang salah, seperti men-gucap (hlm. 214), seh-arian (hlm 217), men-gangkat (220), dan ada beberapa kata yang dipisah seperti mer-eka, dok-ter, kon-disi, un-tuk, keji-waan, kar-ena. Itu saja halaman menjelang akhir, pada awal novel saya masih fokus dengan cerita jadi saya tidak mencatatnya, tapi semakin ke belakang, pemenggalan tersebut semakin banyak, membuat saya tidak fokus dengan cerita jadilah saya mencatat dan akhirnya memberikan komentar tentang itu. Karena setau saya, yang dulu pernah saya pelajari di bangku kuliah, pemenggalan kata pada tulisan baiknya terletak pada imbuhan, misal se-harian, meng-ucap, meng-angkat, malah lebih bagus kalau tidak dipenggal. Eh, jangankan kata berimbuhan, kata dasar saja dipenggal sama editor buku ini. Haduuuh.... 

3. Ada banyak kalimat yang tidak efektif, atau nama awamnya, mubazir, maksudnya adalah beberapa kata sebenarnya bisa saja dihilangkan. Misal: Gue ketawa ketika ketemu temen-temen gue. Hmm, saya rasa kata gue di akhir kalimat bisa dihilangkan. Bahkan ada juga kalimat seperti, "Gue dan temen-temen gue". Yah, mubazirnya seperti itulah, agak mengganggu bagi saya yang sudah terbiasa bertemu dengan soal-soal Bahasa Indonesia. Atau kata seperti, bokapnya Farid. Hmm, -nya itu kan kata ganti orang ketiga, tidak perlu digunakan jika memang nama tokoh sudah disebutkan. 

Ya itu sajalah komentar dari saya, semoga untuk novel atau buku selanjutnya, penulis dapat lebih bagus lagi dalam merangkai kalimat, tentunya dengan tata bahasa yang tepat dan editor dapat memberikan kontribusi lebih maksimal dari buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar