Jumat, Agustus 17

[Resensi] Four Season: Empat Novel Romantis Karya Ilana Tan



Sudah pernah membaca novel Ilana Tan yang bertema 4 season? Belum? Beli gih, lagi dijual paketan langsung empat novel tuh di toko-toko buku kesayangan Anda... (:p) Atau sebelum membeli dan membaca, kalian mau tau dulu seperti apa cerita keempat novelnya dengan membaca tulisan ini? Sok atuh kalo gitu...

Novel Four Season

Hmm tapi, kalau mengenai cerita keseluruhannya sih nggak mungkin ya saya jabarkan di sini, yang ada bakal jadi spoiler... terus kalian nggak jadi beli deh karena udah tau isi ceritanya. Haha Atau kalau memang sangat penasaran, kalian bisa kok googling. Sudah banyak yang membuat resensi dengan hanya menceritakan isi bukunya, tetapi tidak membahas keunggulan dan kekurangannya. :p

Mungkin agak telat kalau saya membuat resensi mengenai 4 season Ilana Tan sekarang. Berhubung novel keempat dari paket ini sudah terbit tahun 2010 lalu, tapi nggak ada salahnyalah kalo saya bahas sekarang, kan saya juga baru selesai baca keempat novelnya beberapa hari lalu. *pembelaan* X))

Jadi novel 4 season atau novel empat musim Ilana Tan ini masing-masing berjudul Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London (benar nggak ya, sebentar saya cek...). Oke benar. Lalu, apakah cerita pada novel-novel tersebut berkelanjutan? Sebenarnya sih keempat novel ini dalam segi cerita tidak ada hubungannya sama sekali. Maksudnya? Ya kalian bisa membaca novel ini secara lepas dan tidak berurutan. Lalu, untuk apa dibuat satu paket dan dinamai 4 season seakan-akan wajib memiliki keempatnya?

Nah, di sinilah menariknya novel Ilana Tan...


Yang menghubungkan keempat novel tersebut adalah dari novel pertama sampai terakhir, tokoh-tokohnya saling berhubungan, entah saudara, sahabat, atau sekadar tetangga. Jadi, lebih afdol jika kita membaca secara berurutan seperti yang sudah saya urutkan sebelumnya.

Benang merahnya begini... Hmm, ini udah mulai masuk sinopsis sih sebenarnya... Kita simak yuk tweeps... *eh salah, itu sih socmed sebelah*

Kita mulai dari novel pertama: Summer in Seoul.
Dalam novel ini diceritakan seorang wanita blasteran Indonesia-Korea bernama Han Sun Hee, biasa dipanggil Sandy, yang diminta oleh seorang penyanyi terkenal Korea bernama Jung Tae Woo untuk menjadi pacar pura-puranya untuk menghilangkan gosip bahwa Tae Woo seorang gay. Padahal Tae Woo tidak gay, hanya karena dia tidak pernah terlihat memiliki pacar, media menggosipkannya seperti itu. Sandy yang tanpa sengaja bertemu Tae Woo karena HP mereka tertukar akhirnya diminta untuk itu. Sandy pun bersedia, bukan karena Tae Woo berwajah tampan dan seorang penyanyi terkenal, melainkan ada hal lain yang membuat dia ingin mengenal Tae Woo lebih lanjut. Apakah itu? Bagaimana kah kisah selanjutnya? Beli dan baca. Haha

Novel kedua: Autumn in Paris.

Novel ini mengisahkan hubungan antara Tara Duppont seorang wanita blasteran Indonesia-Prancis dan Tatsuya Fujisawa seorang pria asal Jepang. Hubungannya dengan novel pertama? Si Tara ini adalah sepupu Sandy pada novel Summer in Seoul. Itu aja, untuk ceritanya? Nggak berhubungan sama sekali. Inti ceritanya, Tara dan Tatsuya ini akhirnya saling jatuh cinta, tapi ternyata tidak semudah itu mereka bersatu. Ada satu masalah yang membuat cinta mereka hanya berupa angan. Apakah itu? Baca aja ya... Pokoknya, di antara keempat novel, hanya novel ini yang bikin saya nangis. :’(

Novel ketiga: Winter in Tokyo.
Nah, Tokyo... berarti di mana? Yup, Korea... eh Jepang maksudnya... :p Kalau sudah menyinggung Jepang, pasti tahu dong, berhubungan dengan siapa pada novel kedua??? Jadi, tokoh wanita dalam novel ini yang bernama Ishida Keiko adalah tetangga Tatsuya di Jepang. Kamar apartemen mereka berseberangan. Oleh sebab Tatsuya tidak menempati kamarnya lagi, ada seorang pria yang bekerja sebagai fotografer profesional di NewYork yang menempatkan kamar tersebut. Ia bernama Nishimura Kazuto. Keiko dan Kazuto saling jatuh cinta pada akhirnya. Namun, di pertengahan cerita, Kazuto diserang mafia yang membuatnya gegar otak ringan. Hal itu menyebabkan pengalaman satu bulan selama ia tinggal di Jepang terlupakan. Dengan begitu, ia juga melupakan kenangan bersama Keiko. Bagaimanakah kelanjutnya? Saksikan di toko buku kesayangan Anda. :p

Novel keempat:  Spring in London.
Nah lho... London... apa hubungannya dengan novel sebelumnya nih??? Ada dong... jadi si Keiko (pada novel ketiga: Winter in Tokyo) mempunyai kembaran yang bekerja sebagai model di luar negeri. Ya benar, tokoh utama wanita di novel keempat ini adalah kembaran Keiko yang bernama Ishida Naomi. Eits... nggak hanya itu, ternyata tokoh pria yang bernama Danny Jo yang merupakan seorang model terkenal di Korea juga berhubungan dengan Jung Tae Wo (tokoh pria pada novel pertama: Summer in Seoul). Apa hubungannya? Mereka bersahabat. Nah, Naomi dan Danny bertemu karena menjadi model dalam video clip lagu Jung Tae Wo yang syuting di London. Dari syuting yang berjalan selama empat hari itulah, Danny Jo merasa bahwa Naomi takut pada dirinya dan seakan-akan menjauhinya. Karena penasaran, Danny Jo mendekati Naomi dan berusaha mencari tahu penyebabnya. Ya intinya, hubungan mereka membaik karena Naomi mulai menyadari bahwa Danny Jo berbeda. Namun, tentu saja ada konflik yang terjadi ketika suatu hari ada kejadian yang menyebabkan Naomi teringat dan trauma akan masa lalunya. Kejadian itu membuat hubungan mereka merenggang. Konfliknya apa? Mau tahu? Lahaciya... #runrunsmall

Oke, dari sinopsis keempat novel tersebut bikin kalian penasaran nggak? Pasti ingin ngejitak saya ya karena nggak semua alur saya ceritakan? Haha Memang inti tulisan ini bukan itu kok. Saya hanya ingin mengomentari gaya bahasa dan cara penceritaan Ilana Tan. Juga mengenai ide ceritanya karena itu merupakan daya tarik dari keempat novel ini.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Ilana Tan sangat memikat. Maksud saya, romantis. Beuh, keromantisannya membuat saya senyum-senyum sendiri ketika membaca dan keinginan untuk menjadi tokoh wanita dalam novel-novel tersebut sangat besar. Haha

Ya benar, keempat tokoh pria pada keempat novel tersebut diceritakan sebagai tokoh yang romantis. Baik dari perbuatan, maupun perkataan, semua tokoh pria diceritakan sopan dalam memperlakukan wanita dan tentunya setia. Walaupun ada perbedaan, persentasinya tidaklah besar. Namun, sebagai pembaca, saya merasa justru hal tersebut menjadi kekurangan. Padahal bisa saja lho, Tatsuya dicerminkan sebagai tokoh yang urakan karena jiwa seni (fotografer), sedangkan Danny Jo sebagai tokoh playboy karena dunia modelingnya.

Tidak hanya pria yang romantis, para tokoh wanita diceritakan mempunyai pemikiran yang sama. Ya bedanya hanya tindakan dan pikiran. Jika para tokoh pria bertindak romantis, tokoh wanita berpikir romantis. Persamaan lainnya, para tokoh wanita diceritakan memiliki masa lalu yang kelam. Hanya pada novel kedua: Autumn in Paris saja yang diceritakan si tokoh pria yang mempunyai masa lalu. Jadi, Ilana Tan ini bermain-main dengan masa lalu yang membuat para tokohnya menjadi trauma, rendah diri, atau menjadi sosok misterius. Sudut pandang penceritaannya pun sama, yaitu memakai sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Secara keseluruhan, dengan tema percintaan yang diusung dan watak tokoh yang hampir sama pada tiap novelnya, sudut pandang yang membuat pembaca tahu pemikiran para tokoh, alur yang ada pun jadi mudah ditebak: pertemuan, saling jatuh cinta, konflik, serta happy ending (hanya novel kedua saja yang sad ending).

Nah, novel kedua yang berjudul Autumn in Paris ini menjadi daya tarik sendiri bagi saya. Kenapa? Karena saya menangis membacanya. Sejak terciptanya konflik, saya mulai mengira-ngira, “Oh mungkin nanti begini, kan pastinya bakal happy ending, masa sih mereka nggak bersatu.” Sampai akhirnya, ketakutan saya terbukti, cerita berakhir dengan kesedihan, saya pun merasa sesak dan air mata benar-benar jatuh dengan ikhlas. Haha (lebay mode:on). Bahkan, percaya atau tidak, cerita tersebut berlanjut sampai terbawa mimpi, berusaha mengingkari bahwa ending-nya bukan itu. Yah, maklum, khayalan seseorang biasanya sih inginnya happy ending karena kenyataan kan tidak semanis khayalan. :p Terlebih, si tokoh pria, Tatsuya... tokoh pria paling romantis kata-katanya dibanding yang lain... bikin melted rasanya... J

Jadi, inti tulisan ini apa sih? Ingin memuji atau mengkritik? Ya namanya juga resensi, harusnya sih lebih banyak memuji. Maaf kalo terkesan saya malah mengkritisi penulisan Ilana Tan. hehe

Tapi, serius deh, bagi siapa saja yang suka keromantisan, sebaiknya kalian beli dan baca novel ini. Keempat novelnya sarat dengan kata-kata romantis, kejadian yang digambarkan secara romatis, pengorbanan, kesetiaan, yang mungkin kalau hal-hal tersebut terjadi pada diri kita akan membuat kepala kita menggelembung saking GR-nya. Haha... Overall, karena saya tipe penyuka keromantisan, orang yang suka berkhayal, dan tentunya suka membaca roman, ya tentu saja, keempat novel ini saya rekomendasikan untuk kalian baca. Bagus... atau kalau nggak sanggup beli empat novelnya, dari segi cerita dan tokoh, saya menyukai novel kedua, diikuti novel ketiga, pertama, dan keempat. Sekian... :p

Betewe... Ilana Tan menulis novel terbaru yang baru beberapa bulan lalu terbit, judulnya Sunshine Becomes You. Saya belum baca jadi belum bisa memberikan pendapat. Ada keinginan untuk membelinya, tapi memang belum waktunya, ada keperluan lain yang lebih penting. Tapi suatu saat, saya ingin membacanya, ingin merasakan keromantisannya. Semoga. Atau ada yang berminat membelikan saya novel tersebut? Ditunggu deh kalau begitu... :p

18 komentar:

  1. gue udah baca dong semuanya. hahhhaa..setuju sama lia, novel yang kedua dibikin berbeda. Sebenarnya yang jadi keunggulan novel ini adalah bahasa yang diumbar Ilana Tan. Novel ini sangat visual dengan detail laku tokohnya. Itulah yang membuatnya romantis.

    BalasHapus
  2. Iya... bahasanya sangat romantis dan bikin melted... dahsyat lho. Ilana Tan seakan-akan seorang pria yang dapat tau persis cara mencintai dari "kacamata" seorang pria. Beuh...

    BalasHapus
  3. wiih..novel romantis yak? boleh laah kapan2 gw minjem.. :p

    BalasHapus
  4. Jadi Ilana Tan itu laki-laki? gw pikir perempuan. hahaha *barutau setelah melahap habis semua bukunya.

    BalasHapus
  5. Hah? Gw gak bilang Ilana Tan laki-laki lhooo... tapi emang jati diri dia gak ketauan. Gak ada bio, bahkan di google aja gw gak nemuin siapa dia. Tapi kayaknya kalo ngeliat dari cara penceritaannya, lebih ngena romantis2nya gaya cowo sih... entahlah. Haha

    BalasHapus

  6. Sebenarnya saya pribadi merasa ilana tan itu overrated. Tahu sih maksudnya emang menargetkan pembaca2 muda (tebakan saya SMA) tapi tetap saja kan bobotnya jg harus dipertimbangkan. Bukan karena kita muda lantas hrs baca karya2 yang nyaris gak ada isinya, betul? Asal romantis, misalnya, ntn aja drama2 Korea toh ;-)

    Kasihan kan penulis2 sungguhan spt Djenar Maesa ayu, ayu Utami, Sujiwo Tejo, dan Pramoedya kalau diterbitkan berulang2 hanya utk dibaca anak2 sastra spt saya sementara yang macam ilana tan bisa terjual 30rb eksemplar per dua Minggu? He he he.


    P.s., mbak, blognya bagus. Mbak jg bisa ngolah kata2, minat jd penulis?


    Nay

    BalasHapus
  7. Maaf, baru sempet baca. Sebenarnya Ilana Tan bagus kok, dia benar-benar bisa menulis. Meskipun dikhususkan remaja, pemilihan katanya cenderung sastra. Hanya saja tema yang diangkat cenderung ringan, mengingat sasaran pembacanya.

    Lagipula penulis yang memang bagus gak akan merasa takut tersaingi oleh novel2 remaja semacam ini karena mereka pasti punya penggemar masing2. Itu semua kan tergantung minat pembaca. Jika minatnya sastra, dia akan membeli buku2 sastra, bukan novel remaja semacam ini, bukan? Sebaliknya, jika novel semacam ini tidak dijual dan di toko2 buku hanya dijual novel2 sastra karya Djenar dan sastrawan yg telah disebutkan di atas, apakah itu akan menjamin buku2 sastra tersebut akan lebih laku? Kan tidak selalu. Tergantung selera pembaca. Jika tdk berselera membaca buku sastra, mereka tetap tdk akan membeli buku2 tersebut.

    Hmm, jadi penulis? Jika memang ada tawaran saya pasti tidak langsung menerima. Kenapa? Karena mood menulis saya muncul tenggelam. Hehe Tulisan akan bagus jika mood-nya ada, tapi kalo menulis karena deadline atau tugas, biasanya sih hasilnya setengah-setengah. Ya sebenarnya ini sih masalah kebiasaan aja. :p

    Btw, makasih sudah membaca dan berkomentar.

    BalasHapus
  8. Penasaran deh.. :D pngen baca yang nomor 2..
    Biasanyaa aku suka baca krangan Luna torashyngu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dibaca....
      Karya Luna T beberapa aku pernah baca, genrenya lebih banyak science fiction kan ya...
      Salam kenal...

      Hapus
  9. Balasan
    1. Hei Fiki, salam kenal. Semua bergantung sama selera pembaca. Kalau memang seorang cowok suka baca fiksi romantis kayak gini, dia pasti suka novel2 Ilana Tan. Balik lagi sih ke minatnya si pembaca. hehe Saya aja kalau disuruh baca novel fiksi sejarah agak lama selesainya, bahkan sering nggak selesai bacanya. Tp kalau disuruh baca novel2 fiksi romantis, beberapa jam juga selesai. hehe

      Hapus
    2. Iya juga sih, kemarin habis jalan-jalan ke gramedia coba baca yang winter on tokyo(kalo nggak salah). Lumayan, menurutku ini seperti drama korea nya Indonesia versi novel.

      Hapus
    3. Nah, makanya saya bilang bahwa tulisan Ilana Tan itu seperti novel terjemahan. Enjoy karena ringan tp memang alurnya gampang terbaca.

      Hapus
  10. waah, reviewnya kerenn... bukunya masih ada ga? aku mau jual lagi mbaa...:)
    klu ada hubungi aku ya, klik aja nih toko buku online

    BalasHapus
  11. Udah baca berkali kali tapi tetep aja masih ngefeel sama jalan ceritanya. Tidak pernah bosan buat baca karya Ilana tan. Salah satu panutan ku buat selalu membuat karya baru meskipun tidak terpublikasikan 😂

    BalasHapus
  12. Suka banget sm novel Autumn in Paris..udah baca berkali kali gak bosen2..sedihnya dapet banget, aku smp nangis berkali kali baca novel ini.

    BalasHapus
  13. Aku juga suka Novel-novel Ilana Tan kak tuslia.
    jangan lupa mampir di blog aku juga ya
    https://mysimpleblogmuna.blogspot.com/2017/12/kenal-penulis-misterius-ilana-tan.html

    BalasHapus