Senin, Maret 09, 2015

[Resensi Novel] Wonder by R. J. Palacio

Posted by tuslia on 3/09/2015 06:44:00 PM with No comments
Judul : Wonder
Penulis : R. J. Palacio
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penerbit : Atria
ISBN : 9789790245082
Cetakan : 1, September 2012
Tebal Buku : 430 halaman
Harga : 49.900


DON’T JUDGE A BOY BY HIS FACE
“Kuharap, setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit

yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya,

dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.


Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang sangat tidak biasa.


SINOPSIS


Auggie menderita Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kelainan genetis yang membuat wajah Auggie berantakan. Tidak digambarkan secara detail seperti apa wajahnya, hanya saja sebagai pembaca dapat menyimpulkan wajah Auggie berantakan, bahkan Auggie sendiri tidak ingin menggambarkannya. Ketika dilahirkan, dokter menyatakan bahwa hidup Auggie tidak akan bisa bertahan lama. Namun, ternyata Auggie tetap bertahan. Di usia 10 tahun, ia sudah mengalami berbagai operasi untuk membuatnya tetap hidup. Sedikit demi sedikit terlihat seperti manusia normal.


Orang tua Auggie berpendapat bahwa sudah saatnya Auggie bersekolah karena ia tak mungkin terus menerus belajar di rumah. Auggie pun kini menjadi murid kelas lima di Beecher Prep, yang tak jauh dari rumahnya. Jika setiap anak menanti dengan was was, takut, bercampur tidak sabar untuk menghadapi hari pertama di sekolahnya, maka tidak demikian bagi Auggie. Ia sadar, bahwa dengan wajah yang dimilikinya, ia tak akan memiliki teman. 


Kekhawatiran Auggie terbukti. Tak ada orang yang mau duduk di sampingnya, kecuali Jack Will. Di berbagai kelas, Jack tetap duduk di dekat Auggie dan mereka sering ngobrol juga bercanda bersama. Auggie menganggap Jack sebagai sahabatnya. Hingga tibalah waktunya Halloween. Auggie sangat senang jika Halloween tiba. Karena di hari itu, ia tak perlu dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya karena menggunakan kostum yang tak menampakkan wajahnya.

Ketika Auggie mengenakan kostum Bleeding Scream, tak ada yang menjauhinya karena mereka tak tahu itu dirinya. Sayangnya, saat-saat menyenangkan Auggie itu berakhir tragis ketika ia melihat teman terdekatnya, Jack, sedang ngobrol dengan Julian. Inti dari pembicaraan itu menyatakan bahwa Jack sebenarnya hanya kasian dan merasa takut dengan wajah Auggie. Hati Auggie hancur berantakan, hingga ia tak ingin sekolah lagi.

Kisah di buku ini berkutat pada kehidupan Auggie dan orang-orang terdekatnya. Seperti yang dikatakan orang tua Auggie. Dia adalah matahari dan orang-orang di dekatnya bagaikan planet yang berputar mengelilingi matahari. Inilah semesta Auggie. Di sini, ada cerita dari sudut pandang Olivia--kakak perempuan Auggie, Summer, Miranda (sahabat Olivia yang sangat sayang sama Augie), pacar Olivia, dan tentunya Jack Will.

Sebenarnya, awalnya saya agak malas membaca novel ini karena covernya kurang menarik. Terlalu sederhana. Atas rekomendasi teman saya, saya pun memaksakan diri membaca dan akhirnya saya menyukainya. Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari.

Saya jadi bisa mengetahui perasaan penyandang "cacat" yang menginginkan orang-orang menganggap mereka normal.

Dari buku ini, saya jadi mengetahui hebatnya sebuah keluarga yang dipenuhi rasa sayang dan cinta, tidak hanya sekadar rasa, tapi perlu kata untuk menguraikannya, misal ucapan sederhana "Aku menyayangimu, Mom."
Dari buku ini, saya mengetahui sisi jahat manusia yang merupakan perasaan normal dalam kehidupan sehari-hari, misalnya berteman karena kasihan, malu punya adik cacat, bahkan ingin menjadi bagian kelompok yang populer meskipun dengan cara berbohong.
Intinya, buku ini sangat banyak memberi saya pelajaran berharga, harus menjadi diri yang lebih baik lagi, tentunya meningkatkan rasa syukur.
Bahasa dalam novel ini sangat sederhana, tidak hanya memperlihatkan sudut pandang Auggie, tetapi juga dapat melihat sudut pandang saudara dan teman-temannya sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan dari berbagai perspektif.

Novel ini sangat bagus untuk dibaca, setidaknya sekali karena seperti yang saya katakan di atas, banyak pelajaran dalam hidup yang dapat kita baca di dalamnya. Kalaupun tidak membeli, ya pinjam saja, seperti yang saya lakukan, saya meminjamnya. Karena memang saya mengetahui buku ini telat, baru tahun 2014. hehehe





Categories:

0 komentar:

Posting Komentar