Jumat, Desember 16, 2011

PK FIB UI 2011: Sindiran Inggris pada Dunia Pendidikan

Posted by tuslia on 12/16/2011 01:30:00 PM with 2 comments
Sumber: Carikampus.com
Tanggal 10 Desember 2011 lalu, FIB UI, telah melaksanakan sebuah perhelatan besar yang setiap tahun tidak pernah saya lewatkan, yaitu Petang Kreatif (PK) yang merupakan salah satu bagian acara Festival Budaya FIB UI yang memang diadakan pada setiap tahunnya. Meskipun sudah menjadi alumni, entah kenapa untuk acara PK saya selalu menghadirinya, tentunya bersama Keluarga Ong-Ong: Hanum dan Juned.

Apa sih PK? PK itu adalah ajang silaturahmi antarjurusan FIB UI dengan cara mempertunjukkan Maba (mahasiswa baru) dari masing-masing jurusan dalam berteater. Acara ini dikuti oleh 15 jurusan yang ada di FIB UI. Eh, masih 15 jurusan kan ya atau udah nambah? Entahlah... Coba deh di absen dulu, di FIB itu ada Prodi Indonesia, Inggris, Jepang, Rusia, Korea, Belanda, Jerman, Prancis, Cina, Arab, Jawa, Filsafat, Arkeologi, Sejarah,  dan Ilmu Perpustakaan (horeee, aku hafal...).


Prodi yang berlangganan juara itu Indonesia (bangga jadi lulusannya :D), Ilmu Perpustakaan, Inggris, Sejarah, dan Belanda. Siapa yang saya tunggu-tunggu setiap tahunnya? Tentunya Indonesia dengan make-up ancur dan komedi parahnya, sedangkan Ilmu Perpustakaan juga menjadi pertunjukkan yang ditunggu-tunggu karena ketotalan mereka. Ini pendapat pribadi lho ya, jadi jika ada yang berbeda pendapat ya wajar :p.

Biasanya sih saya akan betah berlama-lama dari siang hingga malam di dalam Auditorium Gdg. IX. Namun sayang, tanggal 10 Desember lalu saya mendapat jadwal mengajar sampai pukul 20.30 sehingga saya baru sampai di FIB UI sekitar pukul 21.30, hanya dapat melihat sekilas Ilmu Perpustakaan (itupun tidak jelas karena Audit sungguh ramai). Kemudian baru dapat view (bukan tempat duduk ya, soalnya saya mendapatkan view sambil berdiri, itupun di belakang :D) yang pas ketika Sejarah dan Inggris pentas. Bahkan Indonesia tidak dapat saya saksikan karena mereka tampil sekitar pukul 18.00 :'(.

Setelah semua jurusan tampil, ada jeda sesaat dan membuat Audit sedikit lengang sehingga saya bisa bergabung dengan Hanum dan Juned yang sejak siang sudah anteng duduk di dalam Audit. Sambil menunggu pengumuman, kami bernostalgia dan mendapat hiburan dari kedua MC yang menurut saya sungguh hebat. Salut kepada mereka berdua karena tidak ada lelahnya dari siang hingga pukul 01.00 dini hari di atas panggung. Iya, jam 1 pagi dewan juri masih rapat menentukan juaranya sampai-sampai para penonton merasa gelisah dan mulai mem-bombardir panitia dengan celaan. Kasian panitia, tentunya mereka lebih lelah daripada kami yang hanya menunggu dan duduk tenang di dalam audit. #pukpukmassalpanitia.

Sekitar pukul 01.00 lewat atau belum lewat ya? Entahlah, saat itu saya menahan kantuk dan lelah demi bisa mendengar pengumuman pemenang. Saya menunggu sampai akhir sebagai rasa bersalah tidak bisa menyaksikan pertunjukan prodi Indonesia yang katanya memang kocak. Akhirnya, dibacakanlah para pemenangnya, cukup banyak kategorinya sih, tapi tetap saja yang ditunggu-tunggu adalah juara PK. 

Penjurian dilakukan oleh Heri, Sudjiwo Tedjo, dan Ray Sahetapi. Selain Mas Heri yang sudah pernah menjadi juri tahun 2007, mbah Sudjiwo Tedjo dan Ray Sahetapi pastinya merasa "ckckck" karena melihat penonton selalu memenuhi Auditorium Gdg. IX meski sedang break maupun sudah sampai dini hari seperti saat itu. Bahkan Sudjiwo Tedjo pada akun twitternya sempat berkata bahwa dia baru pertama kali melihat penonton teater kampus sebegitu banyaknya. Oke, cukup pujiannya. Langsung ke pemenang... :))

Mas Heri mengumumkan juara ke-3 pemenang PK yaitu Indonesia. Ray Sahetapi mengumumkan bahwa Filsafat menjadi juara ke-2. Terakhir, Mbah Sudjiwo Tedjo mengumumkan Inggris sebagai juara pertama. Banyak yang mengira bahwa Ilmu Perpustakaan akan menjadi juara pertama. Bahkan saya sendiri berkata ketika Sudjiwo Tedjo berada di panggung, "Nggak usah disebutin lagi deh kayaknya, pasti Ilmu Perpustakaanlah." Dan ternyata kesotoy-an saya salah. haha Oleh dewan juri, Inggris-lah yang terpilih menjadi juara pertama. Bukan hanya saya, penonton lain pun hanya bisa bertepuk tangan dan bahkan berdiri saking speechless-nya. Di luar perkiraan, tentu saja. Jangankan jurusan lain, jurusan Inggris saja tidak terlalu heboh mendengarnya karena memang pengumuman itu tidak terduga.

Sujiwotejo, sumber: carikampus.com

Sebenarnya, ketidakpercayaan saya selaku penonton, tidak bermaksud menyatakan bahwa Inggris tidak layak sebagai juara lho. Inggris bagus, menampilkan gaya remaja Amerika dalam menyindir pendidikan. Namun, tetap saja, saya tidak percaya bahwa Ilmu Perpustakaan sama sekali tidak mendapatkan juara, padahal penampilannya bagus dan membuat heboh penonton. Saya sih tidak terlalu menyimak pertunjukan, saya hanya mendengar seruan takjub dari  dalam audit, sedangkan saat itu saya berada di lobby Gdg. IX karena tidak dapat masuk ke dalam saking penuhnya. #pukpukLia Terlebih selama pertunjukan, Inggris mengalami human error, lebih banyak kesalahan pada audio sih. Tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak rela juga jika Indonesia kalah dan digantikan Ilmu Perpustakaan. haha

Yah, sebenarnya, dewan juri adalah orang yang ahli dalam bidangnya, jadi mereka pasti mempunyai pertimbangan tersendiri. Kata teman saya yang menyaksikan filsafat, dalam cerita yang diangkat filsafat juga mengandung unsur sindiran ya? Yah mungkin, para juri lebih menyukai tetaer yang di dalamnya mengandung sindiran tapi disampaikan dengan bakat dan cerita yang mendukung pula. Ah, apapun alasannya, Indonesia saja sudah membayar segala penantian saya yang sampai rumah sekitar pukul 02.00 dini hari :D.

Namun, jika ada yang bertanya kepada saya apakah Inggris pantas menjadi juara? Saya akan menjawab "Ya, mereka pantas!"

Saya sangat menyukai sindiran yang diangkat oleh jurusan Inggris. Cerita di mulai ketika sekelompok siswa menari dan bernyanyi ala amerika. Intinya, mereka digambarkan sebagai kelas yang sulit diatur, ada yang tidak membawa buku, protes cara guru mengajar, menasihati guru bagaimana cara mengajar yang baik, bahkan membuat guru tersebut mengundurkan diri. Kemudian, diceritakan kembali bahwa ada guru pengganti. Seperti pada guru sebelumnya, mereka mencoba memberontak, tetapi ternyata sang guru mempunyai tongkat sihir yang dapat menyihir mereka untuk menuruti perintah guru tersebut. Para siswa disihir seperti boneka yaitu menulis, belajar, menghapal teori di luar kehendak mereka. Mereka seperti sudah tidak lagi memiliki tubuhnya. Hanya ada satu siswa yang masih berusaha untuk terlepas dari sihir tersebut. Siswa itu berusaha menggerakkan tubuhnya agar tidak dipengaruhi oleh sihir sang guru. Sang siswa berhasil merebut tongkat dan mematahkannya. Berkat usahanya, sang guru dapat terkalahkan dan siswa lainnya dapat kembali mempunyai kendali akan tubuh masing-masing.

Itulah sinopsis yang disampaikan oleh jurusan Inggris. Sederhana dan memang terdapat unsur khayalan. Namun, saya sangat menyukai sindiran di dalamnya.

  1. Para siswa memprotes cara mengajar guru yang membacakan puisi dengan cara didikte serta selalu mengulang pelajaran yang sama.
  2. Para siswa memberi komentar bahwa cara lain dalam mengajarkan puisi bisa dengan memusikalisasikannya. Mereka pun bernyanyi sebagai contoh.
  3. Salah satu siswa berkata bahwa puisi itu apresiasi jadi seharusnya soal tentang makna puisi tidak dalam pertanyaan pilihan ganda.
  4. Sikap guru yang tidak mau menerima masukan para siswa dan akhirnya keluar ruangan. Esok harinya dinyatakan bahwa sang guru mengundurkan diri.
  5. Guru pengganti mengajar dengan otoriter bahkan berkata para siswa harus mencatat segala teori yang ia sampaikan dan harus menghapalkannya.
  6. Guru pengganti mengubah para siswa menjadi boneka: Menjadikan para siswa hanya belajar dan menghapal.
  7. Guru pengganti berkata bahwa para siswa tidak mempunyai pendirian sehingga dapat dengan mudah ia jadikan boneka.

Iya, ketujuh sindiran itulah yang paling membekas dalam ingatan saya mengenai pertunjukan jurusan Inggris. Mencengangkan dan sepanjang pertunjukan jempol kanan saya tidak henti-hentinya mengacung. Hal yang paling saya setujui adalah adanya soal pilihan ganda mengenai pertanyaan makna yang terkandung dalam puisi.

Sebagai lulusan prodi Indonesia dan tiga tahun menjadi pengajar di bimbingan belajar, saya sangat menyadari bahwa puisi itu apresiasi sehingga makna di dalamnya tidak akan cukup dijabarkan dengan hanya jawaban pilihan ganda, terlebih apresiasi setiap orang pastinya berbeda. Dengan demikian, sangat wajar jika para siswa mengalami banyak kesalahan menjawab soal sastra yang terdapat pada soal ujian.

Oleh karena itu, jika memang pada soal ujian masih tetap mempertahankan soal pilihan ganda mengenai sastra, ada baiknya seorang guru memilih pertanyaan selain makna atau isi yang terkandung dalam puisi. Mengapa? Karena puisi itu sarat dengan kata berkonotasi, sedangkan sebuah kata yang berkonotasi dapat dimaknai secara luas dan berbeda pada masing-masing siswa.

Sebagai pengajar pun, saya sering mendapat cerita dari para siswa bahwa guru di sekolah biasanya tidak mau mendengarkan alasan para siswa ketika siswa tersebut memprotes bahwa jawaban guru salah. Guru cenderung menganggap dirinya benar karena merasa sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pengajaran tersebut. Padahal tidak menutup kemungkinan, apalagi dalam hal bahasa, bahwa jawaban yang benar akan berubah.

Dalam bahasa tentunya akan ada perkembangan, siapa yang mengira tulisan yang dulu baku sekarang bisa saja menjadi tidak baku? Untuk itu, diperlukan pengetahuan lain, paling tidak update perkembangan bahasa dengan cara mendengarkan pendapat siswa dan mencari tahu sendiri dengan menambah bacaan, jangan hanya mengandalkan pengalaman selama bertahun-tahun dalam dunia pendidikan saja. Hal ini tentunya sebagai pembelajaran untuk saya pribadi :D.

Lalu, mengenai siswa dijadikan boneka, entahlah, sistem yang salah atau cara mengajar guru yang salah. Namun, saya lebih setuju dengan sistem yang salah. Selama ini, menurut saya, praktik langsung lebih berguna dibandingkan dengan menghapalkan teori. Dulu, sewaktu masih sekolah, saya sering berpikir, "Untuk apa sih ini dipelajari? Perasaan nggak akan guna juga dalam kehidupan sehari-hari." Tapi ya mau bagaimana lagi, saya bukan orang yang ahli dan mengerti dalam hal ini sehingga tidak dapat berkomentar banyak :p.

Yah sudahlah, cukup sampai di sini saja kicauan saya tentang dunia pendidikan. Padahal tulisan ini dimulai dari pembahasan Petang Kreatif FIB UI 2011 ya. Beginilah, kalau sudah berkicau pasti ada unsur curhatan dan teori suka-suka di dalamnya :D.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada Maba Prodi Indonesia FIB UI 2011 karena telah meraih tiga piala dalam Petang Kreatif 2011: juara ketiga, tata rias terbaik, dan kostum terbaik serta masuk ke dalam 10 nominasi dari 11 nominasi yang dibacakan. Sebagai senior kalian, saya merasa bangga :D.

Kepada para panitia yang mayoritas angkatan 2008, meskipun kalian tidak merasakan gegap-gempita PK FIB UI 2008, kalian telah berhasil menyelenggarakan Fesbud 2011 yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan saya sempat mendengar kabar bahwa Naif menjadi bintang tamu dalam salah satu acara kalian. Terima kasih karena telah membuat saya merasa bangga menjadi salah satu lulusan FIB UI.

Ah sayang sekali, saya tidak sempat mendokumentasikan atau paling tidak mengambil beberapa gambar sehingga dapat terlihat semaraknya suasana di sana. #pukpukLialagi

Eh tapi bagi yang ingin melihat ulasan lengkapnya, silakan lihat di sini.

Sekian dan terima komentar ... :)
Categories:

2 komentar:

  1. sayaaang.. gue ga bisa menyaksikan...huhu.. ada yg punya rekaman pas Indonesia tampil ga? :D

    BalasHapus
  2. Panitia jual hasil rekaman tuh, ada yang satuan, ada yang tiga prodi (tp berurutan ga bs pilih2). Coba hubungi Lucky IKSI 2008 aja say. Gue juga nggak nonton kok, cuma nonton Sejarah dan Inggris #nangiskejer.

    BalasHapus